DPR Minta Pemerintah Kurangi Impor Bawang Putih
Garry Talentedo Kesawa
Senin, 20 Desember 2021 - 16:34 WIB
Anggota Komisi IV DPR RI, Andi Akmal Pasluddin. (Foto: DPR RI)
Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin, meminta pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengurangi importasi bawang putih yang tiap tahun mencapi 507 ribu ton per tahun. Besaran angka importasi bawang putih pada outlook bawang putih 2020 menjadikan Indonesia sebagai negara importir bawang putih terbesar di dunia.
Akmal menjelaskan bahwa sejak enam tahun lalu, China secara konsisten mengirimkan bawang putih dalam jumlah besar ke Indonesia. Ia pun sangat menyayangkan belum ada perubahan terkait impor bawang putih tersebut.
Baca juga:Cegah Penyebaran Omicron, DPR Minta Pemerintah Tutup Pintu Masuk TKA
"Saya sangat menyayangkan belum ada perubahan situasi importasi bawang putih dalam negeri dimana tiap tahun kita tinggi sekali angka impornya dari China. 99 persen kita yang ambil, sisanya dari India, Taiwan, Amerika Serikat, dan Mesir yang angkanya hanya ratusan hingga maksimal 2 ribu ton," kata Akmal dalam keterangan tertulisnya seperti dikutip Senin (20/12).
Politisi PKS itu membeberkan importasi bawang putih pada 2015 mencapai 482.000 ton, 2016 sebesar 445.000 ton, dan 2017 sebesar 550.000 ton. Sedangkan di 2018 sebesar 585.000 ton, dan 2019 sebesar 472.000 ton. Menurutnya, besarnya impor bawang putih menyebabkan komoditas ini selalu mengalami defisit neraca perdagangan sejak tahun 1996.
"Saya minta secara khusus kepada pemerintah melalui Kementan, setidaknya ada upaya mengurangi besaran importasi bawang putih di negara kita. Kegiatan dan program kementan di Dirjen Horti mesti ada succes story-nya untuk menekan angka importasi bawang putih, karena komoditas ini tidak banyak ditanam di Indonesia seimbang dengan kebutuhan rakyat Indonesia yang sangat banyak," jelasnya.
Baca juga:DPR Setujui Perubahan RUU Tentang Jalan Menjadi UU
Akmal menjelaskan bahwa sejak enam tahun lalu, China secara konsisten mengirimkan bawang putih dalam jumlah besar ke Indonesia. Ia pun sangat menyayangkan belum ada perubahan terkait impor bawang putih tersebut.
Baca juga:Cegah Penyebaran Omicron, DPR Minta Pemerintah Tutup Pintu Masuk TKA
"Saya sangat menyayangkan belum ada perubahan situasi importasi bawang putih dalam negeri dimana tiap tahun kita tinggi sekali angka impornya dari China. 99 persen kita yang ambil, sisanya dari India, Taiwan, Amerika Serikat, dan Mesir yang angkanya hanya ratusan hingga maksimal 2 ribu ton," kata Akmal dalam keterangan tertulisnya seperti dikutip Senin (20/12).
Politisi PKS itu membeberkan importasi bawang putih pada 2015 mencapai 482.000 ton, 2016 sebesar 445.000 ton, dan 2017 sebesar 550.000 ton. Sedangkan di 2018 sebesar 585.000 ton, dan 2019 sebesar 472.000 ton. Menurutnya, besarnya impor bawang putih menyebabkan komoditas ini selalu mengalami defisit neraca perdagangan sejak tahun 1996.
"Saya minta secara khusus kepada pemerintah melalui Kementan, setidaknya ada upaya mengurangi besaran importasi bawang putih di negara kita. Kegiatan dan program kementan di Dirjen Horti mesti ada succes story-nya untuk menekan angka importasi bawang putih, karena komoditas ini tidak banyak ditanam di Indonesia seimbang dengan kebutuhan rakyat Indonesia yang sangat banyak," jelasnya.
Baca juga:DPR Setujui Perubahan RUU Tentang Jalan Menjadi UU