Langit7, Jakarta - Kopi sudah menjadi gaya hidup dan banyak dinikmati oleh setiap kalangan, termasuk juga warga difabel.
Melihat fenomena kopi yang sedang tren belakangan, Rahmat warga Bumi Serpong Damai, Tangerang menyoroti, posisi teman-teman difabel hanya menjadi bagian dari pasar. Artinya mereka menikmati kopi hanya sebagai konsumen, belum terlibat dalam bisnis kopi .
Padahal, bisnis kopi sendiri cukup menguntungkan bagi pelaku usaha satu ini. Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian konsumsi kopi nasional pada 2016 mencapai sekitar 250 ribu ton dan tumbuh 10,54 persen menjadi 276 ribu ton.
Baca juga: Potensi Menjanjikan Ternak Murai Batu, Rp8 Juta per EkorKonsumsi kopi Indonesia sepanjang periode 2016-2021 diprediksi tumbuh rata-rata 8,22 persen per tahun. Pada 2021, pasokan kopi diprediksi mencapai 795 ribu ton dengan konsumsi 370 ribu ton, sehingga terjadi surplus 425 ribu ton.
Untuk itu, Rahmat mulai berpikir untuk berbagi manfaat dengan teman-teman difabel. Salah satunya memberdayakan mereka melalui bisnis kopi yang dijalankannya.
Rahmat mengaku, melalui bisnis kopinya itu dia berupaya memberdayakan difabel. Inspirasi itu didapatkannya dari niatan untuk mewujudkan kesetaraan bagi teman-teman disabilitas melalui usaha.
"Jadi kita kita bukan sekadar ingin usaha, tapi kita mau memperjuangkan kesetaraan bagi teman-teman disabilitas juga," katanya dikanal YouTube Apabe Media.
Baca juga: Langkah Pemprov Jabar Tingkatkan SDM Unggul di Sektor WirausahaMelalui riset yang dilakukannya, Rahmat akhirnya menemukan usaha yang cocok untuk sekaligus bisa memberdayakan difabel, yakni bisnis kopi.
Sebab menurutnya, filosofi kopi adalah soal kesetaraan. Di mana setiap orang yang masuk ke dalam kedai dan menikmati secangkir kopi memiliki kesetaraan yang sejajar.
"Jadi tidak memandang siapa lawan bicara mereka ketika berbincang di warung kopi. Terlebih, kopi cukup ngehits di kalangan anak muda saat ini, sehingga berpeluang untuk dikembangkan," jelasnya.
Rahmat mengatakan, teman-teman disabilitas tidak perlu dikasihani. Sebab, kata dia, difabel hanya perlu diberi kesempatan yang tepat, karena mereka memiliki cara untuk mengatasi keterbatasan.
Kopi dengan brand Kito Rato, kini memberdayakan difabel untuk memberikan kesempatan yang sama kepada mereka. Kito Rato sendiri berarti Kita Sama dengan makna bahwa kopi membawa kesetaraan bagi setiap penikmatnya.
"Kita mulai sejak 2018 silam dengan konsep
food truck. Jadi kami menggunakan mobil tua," katanya.
Baca juga: Strategi Dirut PLN Amankan Pasokan Batu Bara Secara Jangka PanjangRahmat menjajakan Kito Rato dengan menggunakan mobil klasik VW Kombi. Ternyata model bisnis yang dijalankannya itu cukup menarik perhatian masyarakat.
Apalagi, dia juga mempromosikan produk dan model bisnisnya lewat media sosial. Menurutnya, seberat apa pun tantangan dalam usaha, solusinya adalah berpikir kreatif.
(zul)