LANGIT7.ID - , Jakarta - Pasca Mark Zuckerberg mengumumkan mengganti nama Facebook menjadi Meta Platforms Inc. atau Meta pada 28 Oktober 2021 lalu, metaverse tiba-tiba menjadi topik paling aktual diperbincangkan. Apalagi, ketika pendiri Microsoft, Bill Gates memprediksi dalam 2-3 tahun mendatang rapat-rapat kantor juga akan diadakan di metaverse.
Founder dan managing director Shinta VR Andes Rizky mengatakan saat Neal Stephenson menciptakan istilah metaverse untuk pertama kalinya pada tahun 1992 dalam novelnya “Snow Crash”, dunia hanya bicara soal fiksi ilmiah.
"Pasalnya semua teknologi yang memungkinkan masih belum ada. Tapi saat ini, metaverse sangat masuk akal dan seperti menghubungkan titik-titik dari banyak teknologi,” kata Andes dalam keterangan tertulis, Jumat (20/1/2022).
Baca juga: Metaverse dalam Pandangan Islam, Bolehkah?Andes menambahkan, industri perbankan adalah salah satu industri yang paling diuntungkan dengan adanya teknologi metaverse.
“Seyogyanya tak membuat bank menunggu lagi. Sebab di metaverse ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan bank,” tutur Andes.
Beberapa peluang itu antara lain bank dapat mencoba menjangkau nasabah baru yang tidak dapat atau tidak mau pergi ke cabang dan masih menawarkan pengalaman yang imersif.
Survei terkait kebiasaan nasabah perbankan ketika masa pandemi yang dipublikasikan MarkPlus, Inc. (2020) menyebutkan intensitas komunikasi antara bank dan nasabah cenderung mengalami penurunan di masa pandemi virus corona (Covid-19).
“Pengalaman imersif mampu mengaburkan batasan antara dunia nyata dengan dunia digital atau dunia simulasi, sehingga penggunanya bisa merasakan suasana yang mirip dengan dunia nyata." sebut Andes.
Ia melanjutkan, di metaverse aktivitas transaksi sederhana seperti pengiriman uang dapat dikelola di jendela
teller bisa juga diwujudkan, sementara avatar karyawan di dalam ruang VIP virtual dapat membantu klien menganalisis atau merancang portofolio investasi bagi pelanggan.
"Ini bisa menjadi
new experience tersendiri bagi nasabah,” kata Andes.
Senada dengan itu, doktor pertama di Indonesia di bidang transformasi digital Bayu Prawira Hie mengatakan teknologi metaverse sangat tepat digunakan bank-bank yang punya layanan
priority banking atau
private banking. “Teknologi metaverse diyakini akan mampu memberikan pengalaman baru atau new experience bagi nasabah perbankan, khsususnya nasabah prioritas dan
private banking. Dalam beberapa tahun ke depan diyakini banyak bank di Indonesia akan masuk ke metaverse." lanjut Bayu.
Bayu yakin akan banyak bank di Indonesia yang akan masuk ke metaverse. Sekarang ini banyak milenial dan anak-anak muda yang uangnya banyak dan menjadi nasabah prioritas atau bahkan
private banking. Metaverse akan menjadi teknologi yang paling menarik bagi perbankan di masa depan. Pengalaman imersif yang ditawarkan metaverse bisa menjadi layanan subsitusi yang solutif dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Co-Founder dan Pemimpin Redaksi digitalbank.id, Safaruddin Husada mengatakan saat ini tak sedikit bank-bank di luar negeri yang menyatakan masuk ke metaverse untuk meningkatkan layananannya pada nasabah.
"Sebut saja di Korea Selatan seperti KB Kookmin Bank, Industrial Bank of Korea, NH Nonghyup dan Hana Bank menyatakan masuk ke metaverse untuk meningkatkan layanannya pada nasabah. Kemudian Bank of America, BNP Paribas lalu Bank of Kuwait dan terakhir Mecrobank di Swedia." kata Safaruddin.
Menurut Safaruddin, tak berlebihan kalau mengatakan teknologi metaverse adalah masa depan perbankan, termasuk perbankan di Indonesia. Contoh paling jelas di mana metaverse dapat memengaruhi perbankan adalah dalam interaksi pelanggan, apalagi di masa pandemi seperti saat ini.
Banyak bank telah menawarkan layanan video tatap muka dengan nasabah dan menggunakan mesin
teller interaktif menggunakan konektivitas video dan fungsionalitas yang lebih kuat daripada ATM. Namun ke depan melayani pelanggan di dunia virtual akan menjadi satu kemutlakan. Dan, meteverse adalah jawabannya.
Baca juga: Ustaz Adi Hidayat: Praktik Ibadah Tak Bisa Dilakukan di Metaverse“Riset terbaru yàng dipublikasikan Digital Banking Report menemukan bahwa hampir setengah dari eksekutif layanan keuangan yang disurvei percaya bahwa 1 dari 5 pelanggan akan menggunakan teknologi virtual atau
augmented reality untuk transaksi sehari-hari,” ujar Safaruddin.
Terkait dengan hal tersebut, portal berita digitalbank.id berkolaborasi dengan Shinta VR dan Intellectual Business Community (IBC) akan menggelar webinar bertemakan “Banking in Metaverse: a Hype or Real?”, pada Rabu, 26 Januari 2022, pukul 09.00-12.00 WIB.
Pembicara yang akan hadir pada webinar tersebut adalah pakar transformasi digital yang juga doktor pertama di Indonesia di bidang transformasi digital Dr. dr. Bayu Prawira Hie, MBA dan Founder juga Managing Director Shinta VR Andes Rizky.
Webinar ini akan diselenggarakan dengan teknologi metaverse yang pertama di Indonesia. Di webinar ini, pemilik Oculus bisa masuk ke metaverse. Sementara peserta lain tetap bisa mengikuti webinar ini melalui Zoom.
(est)