LANGIT7.ID - Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Al-Azhar Kairo, Fikri Lahib, menjelaskan alasan ulama-ulama Nusantara bisa sampai dan masyhur di Tanah Arab. Bahkan, para ulama ini memiliki kitab-kitab menggunakan aksara Pegon dicetak di Mesir.
Di antaranya ulama tersebut ialah Syaikh Nawawi Al Bantani, Syaikh Khatib Al Minangkabawi, Syaikh Yasin Al Fadani, Syaikh Nuruddin Arraniri dan seterusnya.
Di Arab, mereka yang berasal dari Nusantara mendapat sebutan Jawi, sebutan itu untuk orang-orang yang berasal dari Asia Tenggara secara umum seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Brunei Darussalam, sampai Vietnam. Dalam peta Muhammad Al-Idrisi, pelopor ilmu geografi, daerah tersebut disebut dituliskan Kepulauan Jawa.
"Intinya, sejak zaman Al-Idrisi ini orang-orang Arab sudah berniaga ke daerah Jawa," kata Fikri melalui kanal youtube Lukman Hakim, dikutip Sabtu (22/1/2022).
Dari sini, bisa disimpulkan, orang Jawi adalah orang-orang yang berasal dari Asia tenggara, memiliki rumpun yang sama, yang memiliki latar belakang kehidupan yang sama, dan terikat oleh satu hal yakni tulisan Jawi.
"Jadi, orang-orang di sini terikat oleh satu hal, yakni tulisan Jawi. Tulisan Jawi adalah tulisan arab yang dimodifikasi, atau diubah sedikit untuk mengikuti lahjat yang berasal dari tanah Jawa," kata Fikri.
Dari situ pula, bisa disimpulkan bahwa ulama Jawi adalah ulama-ulama yang berasal dari Asia Tenggara yang terikat satu hal yakni tulisan Jawi.
Ulama Jawi bisa sampai ke Tanah Arab memiliki sejarah panjang. Islam masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan pengiriman dai. Saat Islam sudah menjadi agama yang dianut mayoritas masyarakat, berdirilah kerajaan-kerajaan Islam.
"Setelah makin banyak orang masuk Islam, dan mulai belajar Islam secara mendalam, ada yang disebut dengan haji, akhirnya berhaji ke Mekkah," kata Fikri.
Di Mekkah, mereka tidak hanya berhaji saja, tapi sekaligus memperdalam ajaran Islam. Bisa dipahami, transportasi masa itu belum semudah saat ini. Dari situ terbentuk komunitas ulama Jawi di Mekkah.
Saat belajar itu, mereka bertemu dengan pelajar-pelajar dari Suriah, Irak, sampai Mesir. Di sisi lain, pada masa itu, Al-Azhar menjadi pusat intelektual muslim di dunia. Tak heran jika banyak ulama-ulama ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama.
"Ulama pertama yang tercatat datang ke Al Azhar adalah KH Abdul Manan Dipomenggolo Tremas (Ulama Indonesia pertama belajar di Al-Azhar Mesir pada 1850 M). Ini yang tercatat," kata Fikri.
Pada saat itu, Masjid Al-Azhar masih memakai sistem Bilik (Ruangan). Satu ruangan berdasarkan asal para pelajar. Ada pula disebut Bilik Jawi, karena mereka sudah mulai berkumpul, akhirnya diberikan satu ruang untuk orang orang Jawi.
Dari situlah, banyak ulama-ulama ternama menelurkan karya kitab di Mesir. Bahkan, kitab-kitab mereka dicetak di Mesir. Kitab-kitab itu bisa ditemui di percetakan-percetakan tua di Mesir. Ciri khas kitab itu terjaga, yakni menggunakan aksara Pegon.
(jqf)