Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Waspada! Indonesia Masuk 10 Besar Negara Fatherless, Ini yang Harus Ayah Lakukan

Muhajirin Sabtu, 24 Juli 2021 - 09:30 WIB
Waspada! Indonesia Masuk 10 Besar Negara Fatherless, Ini yang Harus Ayah Lakukan
Anak bosan sendiri belajar daring (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID - Pakar pengasuhan anak, Irwan Rinaldi, mengingatkan tanggung jawab ayah dalam mendidik anak. Ayah memiliki peran besar dalam pengasuhan anak, terutama saat anak berusia 7-14 tahun dan 8-15 tahun.

Peran ayah untuk anak dalam keluarga adalah sebagai penyeimbang hubungan anak dengan orang tua baik ayah ataupun ibu. Mengingat keadaan sosial saat ini yang bisa membuat ayah semakin banyak berpikir dan fokus untuk memenuhi dari sisi keuangan keluarga bisa membuat hubungan tidak seimbang antara anak dengan orang tua.

Dia menyebut, jika ayah tidak mendapatkan peran ayah di usia tersebut, maka akan terjadi ketimpangan antara pertumbuhan dan perkembangan anak, karena orang tua hanya fokus pada masalah pertumbuhan anak. Ini berdampak pada kemunduran usia perkembangan anak, karena kurang stimulan dari kedua orang tua.

"Untuk menghadirkan pengasuhan yang ideal dibutuhkan peran utama ayah dan ibu (dual parenting) yang memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak secara menyeluruh," kata Ayah Irwan, dikutip dari laman pemprov Kaltim, Sabtu (24/7/2021).

Indonesia termasuk ke dalam 10 besar negara dengan fatherless atau father hunger dalam pengasuhan anak, yaitu tidak adanya peran ayah karena hanya hadir secara fisik, tetapi tidak terlibat dalam urusan perkembangan anak.

Ada tiga kategori peran ideal seorang ayah, yaitu menyambung keturunan, mencari nafkah, dan peran seorang ayah yang terdiri dari loving yakni mencintai, coaching yaitu melatih, dan modelling yakni menjadi model. Tiga unsur dalam peran seorang ayah ini sangat penting dan saling berhubungan, namun semakin ke sini peran ini mulai tergantikan dengan peran pengasuhan pengganti di luar keluarga inti.

Dia mengingatkan, jia seluruh peran ayah ini hilang, maka akan menyebabkan munculnya kondisi father hunger atau fatherless. Adapun ciri-ciri dari father hunger atau fatherless yaitu ketika usia biologis anak, khususnya anak laki-laki lebih maju dibandingkan usia psikologisnya.

Hal itu seringkali menjadi penyebab utama terjadinya perceraian di masa depan anak, 80 persen istri meminta bercerai karena suaminya lebih mengalami kemajuan di usia biologis dibandingkan kematangan psikologisnya. Father hunger juga mengakibatkan anak mudah mengalami depresi, menjadi anti sosial, rentan melakukan tindak kriminal dan kekerasan, terjerumus seks bebas, narkoba, dan LGBT.

Hal itu umum terjadi karena anak kehilangan sosok ayah, terutama saat anak berada dalam periode emas, di usia 7-14 tahun dan 8-15 tahun. Meskipun anak memiliki ayah, namun mereka tidak mendapatkan pendampingan dan pengajaran dari sosok ayah.

"Father hunger ini dapat menjadi penjara baru bagi anak di rumah. Disinilah pentingnya memperkuat peran seorang ayah, yaitu loving, coaching, dan modelling,” ucap Irwan.

Dia menjabarkan tiga peran ayah dalam pengasuhan anak. Tiga peran itu mesti menjadi perhatian semua ayah agar anak sebagai orang yang berkarakter.

1. Loving

Loving merupakan bentuk peran ayah dalam mencintai dirinya sendiri sekaligus mencintai istri sebagai ibu dari anak-anak. Peran ini merupakan bentuk evaluasi diri seorang ayah untuk membayar hutang pengasuhan (deposit golden period) yang dulu tidak didapatkan dengan baik dalam pengasuhan.

2. Coaching

Coaching yakni seorang ayah merupakan pelatih (coach) terbaik yang dipilih Allah SWT. Untuk melatih anak dengan baik, tentunya seorang ayah harus memiliki kualitas tinggi (high quality) dan bisa memberikan ilmu serta waktu bermakna bagi anak. Ketika anak bercerita terkait perkembangannya, harus ada komunikasi berkualitas agar dapat menciptakan waktu bermakna bersama anak.

3. Modeling

Seorang ayah sebagai salah satu pendidik pertama dan utama dalam perkembangan anak harus memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan. Pentingnya seorang ayah membangun positive fathering dengan memperkuat hubungan spiritual atau hubungan dengan Tuhan. Fathering skill menjadi tidak berarti ketika ayah tidak dekat dengan Tuhan.

Mengutip laman mutiara hati Malang, ayah Irwan menjelaskan, mendekatkan diri pada anak bisa dilakukan dengan beberapa cara. Di antaranya meluangkan waktu yang cukup untuk keluarga, bermain dengan anak, memberikan keteladanan dengan bijaksana, dan mengakui kesalahan, meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada anak.

Ayah juga harus menjadi penyemangat dan pendukung anak, menjadi pendengar yang baik jika anak sedang mengutarakan permasalahannya, menghindari tindakan kasar yang merugikan fisik dan psikologi anak, mengajak anak untuk berolahraga dan tamasya, mengenali siapa teman anak, dan mendidik anak lewat permainan dan tanya jawab.

Dia menjelaskan, kehadiran ayah dalam kehidupan anak, ternyata punya makna yang besar sekali. Hal ini karena ayah mengambil peran yang berbeda dengan ibu dalam kehidupan anak.

Kasih ibu bersifat tidak bersyarat, sedangkan cinta ayah lebih bersifat kualitatif dan melekat pada performance anak. Ibu khawatir tentang bagaimana bayinya bisa bertahan hidup, sedangkan Ayah berpikir bagaimana anaknya dapat menghadapi masa depan.

Ibu mendisiplinkan anak-anak waktu demi waktu, sedangkan ayah mendisiplinkan anak dengan peraturan. Dari ibu, anak belajar segi emosinya sedangkan dari ayah, anak belajar untuk hidup di tengah masyarakat. Ibu memberitahukan anak-anak untuk hati-hati dalam bermain, sedangkan ayah justru mendorong anak untuk berani mencoba sesuatu yang baru.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)