LANGIT7.ID - , Jakarta - Selegram Indra Kenz kini jadi sorotan publik, lantaran pernyataan dirinya yang mengatakan orang miskin juga merupakan
privilege. Bahkan ia sampai mengeluarkan buku dengan judul Terlahir Miskin = Privilege.
Sontak pernyataan tersebut mengundang reaksi dari warganet yang tidak setuju dengan Indra Kenz. Sebelumnya juga ramai di media sosial mengenai Putri Tanjung yang sukses di usia muda lantaran latar belakang sang ayah, Chairul Tanjung yang dikenal sebagai pebisnis sukses. Melihat itu, netizen pun mencap kesuksesan Putri Tanjung karena
privilege yang dimilikinya.
Baca juga: Psikolog: Demi Pertumbuhan Anak, Jangan Sering Sindir MerekaLalu apa itu
privilege?
Menurut Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM), Sunyoto Usman
privilege dalam ilmu sosial atau sosiologi dibedakan menjadi dua
achieved status dan
ascribed status. “
Achieved status merupakan status yang diperjuangkan, yang diraih dengan sebuah usaha. Sementara,
ascribed status ialah status yang diwarisi dan diperoleh dari keturunan." kata Sunyoto saat dihubungi Langit7, Selasa (25/1/2022).
Ia menambahkan, biasanya orang yang memiliki status tinggi itu memperoleh hak istimewa. Bisa disimpulkan, kedua status di atas sama-sama dapat dikatakan sebagai orang yang memiliki hak istimewa.
Menurut Sunyoto, orang yang memiliki hak istimewa jika dimanfaatkan dalam hal baik maka jadinya akan baik. Sebaliknya jika dimanfaatkan dengan tidak baik hasilnya pun akan buruk.
Memiliki hak istimewa itu memang suatu keberuntungan, tetapi ia tidak berpengaruh dengan pertumbuhan anak, kata Sunyoto.
“Untuk perilaku si anak juga tidak berpengaruh, misal dikatakan anak orang kaya sombong-sombong. Tetapi anak orang yang berkekurangan juga banyak yang sombong. Jadi kembali lagi ke individunya,” imbuh Kaprodi S3 Politik Islam Pasca Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.
Baca juga: Sosiolog: Perilaku Konsumtif Harus Diimbangi Kemampuan Finansial“Realitanya banyak kita temui, orang yang memiliki hak istimewa juga bisa gagal dalam hal membangun bisnis keluarga, tapi ada juga yang sukses. Jadi tergantung orangnya, dia bisa memanfaatkan hak istimewa itu dengan baik atau tidak,” ucapnya.
Kemudian, terkait perundungan yang dialami oleh mereka yang memiliki
privilege, Sunyoto mengatakan hal tersebut tidak berdasar.
“Memiliki
privilege itu bukan sebuah kejahatan, maka itu jangan di-
bully. Lagian orang yang suka mem-
bully juga dilakukan tanpa alasan atau tanpa ada data yang valid. Mereka hanya melakukannya sesuai dengan keadaan hati saja, tanpa meriset terlebih dahulu apa yang dialami orang yang mereka
bully,” tutupnya.
(est)