LANGIT7.ID - , Jakarta - Belakangan aksi
mengemis online di platform media sosial menuai kecaman dari warganet. Pasalnya video yang beredar merekam para lansia duduk di tengah kolam sambil mandi ari lumpur. Aksi tersebut pun disiarkan langsung melalui
aplikasi TikTok.
Salah satu akun yang melakukannya adalah @intan_komalasari92. Akun tersebut menampilkan seorang nenek dan kakek yang terus mengguyur dirinya dengan air. Keduanya mengucapkan terima kasih setiap ada yang memberikan gift.
Baca juga: Sosiolog UI Sebut Empat Faktor Penyebab Munculnya Kekerasan di PesantrenSebagai informasi, gift TikTok Live dapat
dikonversi ke rupiah. Setiap jenis gift memiliki nilai berbeda, mulai dari ribuan hingga jutaan rupiah.
Pemilik akun tersebut diduga seorang pria yang dikenali melalui suaranya saat memulai siaran.
"Masuk live gaes, kita seru-seruan terus gaes ya, kita seru-seruan bareng-bareng disini kita challenge terus pokoknya bersama ibuku tercinta," kata pria yang mengnatur tindakan lansia tersebut, dikutip Rabu (18/1/2022).
Sontak warganet membanjiri akun ini dengan komentar negatif. Tak sedikit yang menuding pria tersebut tak menggambarkan kecintaannya pada sang ibu. Bahkan, ada juga yang berdoa agar pelaku segera ditangkap pihak kepolisian.
"Semoga cepat ditangkap polisi, masih muda tuh minimal kerja mas. Orang tuamu itu loh, kalo mereka sakit gimana?" ucap @cacaa.
Baca juga: Ide Pendidikan Islam Bung Hatta: Padukan Ilmu Agama, Sosiologi, Sejarah, dan FilsafatMenanggapi aksi ngemis online ini, Sosiolog Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar mengaku prihatin dengan hal tersebut. Meski begitu, Musni juga tidak setuju dengan warganet yang mengecam tindakan ngemis online.
"Saya sungguh prihatin dengan adanya orang yang menggunakan TikTok untuk mengemis. Tetapi ini kita tidak bisa lihat hanya karena kasus itu sendiri. Kita juga harus bertanya mengapa mereka melakukan hal demikian," ujar Musni kepada Langit7, Rabu (18/1/2022).
Menurut Musni, perlu penelusuran lebih lanjut terkait alasan hingga mereka melakukan hal tersebut. Dengan begitu, yakin Musni, bisa dicarikan solusi untuk mengatasinya.
"Kalau bisa kita telusuri siapa yang melakukan itu. Bagaimana latar belakang kehidupan ekonominya. Tentu kita bisa memastikan bahwa memang tidak ada pilihan mereka harus melakukan seperti itu untuk mendapatkan uang. Dan mereka juga belum tentu bisa diterima bekerja di berbagai tempat apalagi kalau tidak punya keterampilan. Jadi satu-satunya cara yang mereka bisa gunakan dari sekian banyak cara selain mengemis di jalan adalah menggunakan media sosial untuk mengemis termasuk TikTok," katanya.
Baca juga: Cegah Kekerasan Remaja, Sosiolog: Ortu Perlu Rutin Pantau Medsos AnakTerlepas dari itu, Musni melihat aksi ngemis online di TikTok ini menjadi kelebihan dalam memanfaatkan media sosial untuk mencari uang.
"Tentu akan terjadi pro kontra, ada yang mencaci maki dan lainnya. Tetapi kita sekali lagi kita harus melihat dari kehidupan mereka. Kalau ternyata mereka adalah orang yang sangat susah maka itu adalah suatu kehebatan.Mereka menggunakan media sosial untuk mencari nafkah karena mereka tidak punya cara lain," tutur dia.
Musni menambahkan, mengemis di jalan berpotensi ditangkap Satpol PP. Tetapi bila dilakukan melalui cara daring dengan memanfaatkan media sosial, tidak ada yang akan menangkap. Terpahit ada pro kontra dari masyarakat, khususnya warganet.
"Mungkin mengemis di jalan akan ditangkap oleh satpol PP atau polisi tetapi kalau mengemis dengan menggunakan media sosial itu tidak akan ada yang menangkap paling-paling ada yang tidak setuju dan ada yang setuju. Yang setuju tentu akan memberikan bantuan, tetapi yang tidak setuju tentu akan mencaci maki mereka. Jadi menurut saya kita harus lihat mengapa mereka melakukannya," lanjut Musni.
Alumni Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) ini menegaskan tidak setuju jika tindakan mengemis online di caci maki oleh warganet.
Baca juga: Sosiolog Nilai Positif Fenomena Citayam Fashion Week"Sekali lagi saya tidak setuju ketika ada orang yang mencaci pengemis yang menggunakan TikTok untuk mengemis. Tetapi mari kita didik mereka, kita salurkan mereka hingga menjadi TikTokers yang terkenal dimana mempunyai keterampilan untuk menggunakan media sosial untuk mendapatkan uang secara wajar," cetus Musni.
(est)