LANGIT7.ID - , Jakarta - Menanggapi
kekerasan yang terjadi di lingkungan
pesantren belakangan ini,
Sosiolog Universitas Indonesia (FISIP UI) Dr Ida Ruwaida melihat hal tersebut bisa ditemui di insitutusi pendidikan lain, selain pesantren.
Namun, lanjut Ida, karena pesantren adalah lembaga
pendidikan agama, maka tindak kekerasannya yang terjadi lebih disorot.
Terkait hal itu, Ida menyebut setidaknya ada empat faktor penyebab utama terjadi kekerasan di lingkungan pesantren.
Baca juga: 4 Tips Atasi Kekerasan di Sekolah, Begini Saran Kak Seto"Pertama, kultur atau tradisi pesantren yang paternalistik. Budaya atau tradisi pesantren cenderung menempatkan sang kiai atau tokoh sebagai figur sentral, rujukan, bahkan role model," kata Ida, dikutip dari Antaranews, Sabtu (17/9/2022).
Menurut Ida, kepatuhan pada kiai menjadi bagian yang ditanamkan, sehingga bersikap kritis akan dianggap menyimpang hingga diyakini menjadi sumber dosa.
Selanjutnya adalah anggapan bahwa kekerasan adalah bagian dari media pembelajaran. Sebagian pesantren menggunakan kekerasan sebagai bentuk hukuman bagi para
santri yang melanggar aturan. Tujuan penghukuman adalah agar para pelanggar merasa jera.
Kemudian, faktor pemicu ketiga adalah dilema antara rasa
solidaritas warga pesantren dengan literasi
kemanusiaan. Solidaritas sering kali dimaknai sebagai membela atau mendiamkan kawan meskipun salah bersikap dan berperilaku, termasuk pada pelaku kekerasan.
Baca juga: PKS Khawatir Muncul Islamophobia dalam Kasus Kekerasan Santri Gontor"Oleh karena itu, perlu ada
edukasi kepada multipihak, yaitu pengajar, pendamping, para santri, dan orangtua/wali, bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan agama yang melahirkan lulusan yang bukan hanya menjadi ahli agama yang religius, melainkan juga seseorang yang bertoleransi positif, berintegritas, dan humanis," lanjut Ida.
Faktor terakhir pemicu kekerasan di lingkungan pesantren adalah minimnya pemahaman tentang keberagaman. Pesantren bukanlah area yang homogen. Setiap santri memiliki latar belakang sosial ekonomi, wilayah tinggal, watak dan karakter, serta latar budaya yang beragam.
"Mendidik dan mengasuh santri dengan latar belakang berbeda tentu menjadi tantangan tersendiri," kata Ida.
(est)