LANGIT7.ID, Jakarta - Kasus kekerasan yang menewaskan santri
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) 1, Ponorogo, Jawa Timur menuai respons berbagai pihak. Kasus ini masih menjadi perbincangan hangat masyarakat karena kasus kriminal seharusnya tidak terjadi di lingkungan pesantren.
Politikus
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Bukhori, mengatakan penggalangan opini yang terjadi bisa saja menuntun pada perilaku zalim, tidak adil, hingga munculnya stigma terhadap pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam. Bahkan, Bukhori menilai bisa saja masuknya narasi
Islamophobia.
Baca Juga: Wantim MUI Minta Pesantren Berbenah agar Kasus Gontor Tak Terulang"Tidak proporsional dan tendensius bisa jadi politisasi terhadap kasus ini. Tidak menyelesaikan masalah, justru bisa menciptakan stigma dan fitnah terhadap pondok pesantren," kata Bukhori dalam keterangan tertulis yang diterima Langit7.id, Selasa (13/9/2022).
Bukhori khawatir munculnya unsur politisasi dari kasus ini karena pemberitaan yang membesar-besarkan aksi kekerasan di Gontor. Menurutnya, cara tersebut dapat mendiskreditkan
pondok pesantren (ponpes).
"Membesar-besarkan kasus tersebut untuk tujuan politisasi atau mendiskreditkan ponpes, tentu tidak bisa dibenarkan karena tidak adil, tidak proporsional dan tidak membantu mengatasi masalah," ucapnya.
Baca Juga: Polisi Tetapkan Dua Tersangka Kasus Dugaan Penganiayaan Santri GontorLebih lanjut, Bukhori menjelaskan bahwa kekerasan di lingkongan pesantren tidak dapat dibenarkan. Atas hal itu, Bukhori menilai Gontor perlu mendapatkan teguran untuk berbenah.
Seperti diketahui, salah satu santri Gontor berinisial AM (17) tewas karena menjadi korban kekerasan. Saat ini, pihak kepolisian menetapkan dua tersangka berinisial MFA (18) dan IH (17) yang merupakan kakak kelas ananda AM.
Baca Juga:
Lukman Hakim Saefuddin: Gontor Tak Menganut Kekerasan
Kasus Wafatnya Santri AM jadi Momentum Perbaikan Gontor
Alumni Gontor: Keluarga AM Wajib Dibantu Mendapat Keadilan(asf)