LANGIT7.ID - , Jakarta - Beberapa waktu belakangan, penikmat musik dikecewakan dengan adanya
pembatalan konser yang dilakukan oleh pihak berwajib lantaran membludaknya penonton yang membuat keamanan sulit terkendali.
Meskipun tidak memakan korban jiwa tetapi beberapa konser seperti
Berdendang Bergoyang dan
NCT127 mengakibatkan puluhan penonton jatuh pingsan.
Sosiolog
Universitas Gadjah Mada (UGM) Sunyoto Usman mengatakan membludaknya penonton di sejumlah acara itu karena rasa rindu pada
konser musik yang tertunda akibat pandemi.
Baca juga: Pemprov DKI Batasi Kapasitas Penonton Konser Musik Maksimal 70 PersenMenurut Sunyoto, menonton konser melalui YouTube maupun
streaming tidak memiliki sensasi.
"Kalau nonton
streaming itu ada yang kurang, tetapi kalau di panggung terbuka kerinduan itu tersalurkan ditambah bisa bertemu kawan-kawan," ujar Sunyoto kepada Langit7, Senin (14/11/2022).
Terkait maraknya penyelenggara yang menghelat konser, Sunyoto menyebut hal itu karena bisnis semata. Terlebih setelah dua tahun bisnis tidak lancar akibat pandemi.
"Konser musik itukan bisnis. Dalam dunia bisnis biasanya dikategorikan dalam industri kreatif. Bisnis ini pertama ada sponsor, agar mereka dapat manggung. Kemudian untuk
performance, yang membutuhkan panggung. Bisa juga rekaman tetapi sekarang tantangannya dengan diri kita itu semakin berat, jadi mereka harus lebih mengandalkan
performance," katanya.
"Lalu,
performance hubungannya dengan bisnis dan harus untung. Keuntungan itu datang dari frekuensi manggung dan jumlah penontonnya. Tiga aspek inilah yang kemudian mendorong orang untuk konser," lanjut dia.
Baca juga: Promotor Ungkap Alasan Penghentian Konser NCT 127 di ICE BSDKemudian, saat keramaian atau konser mulai diizinkan, maka pihak penyelenggara harus memikirkan cara mengembalikan pemasukan yang sempat tertunda. Salah satunya dengan memperbanyak penonton.
Namun, terkadang penyelenggara kurang memperhitungkan kapasitas tempat acara dengan penjualan tiket. Sunyoto menyebut, hal ini seakan untuk memenuhi semua permintaan penonton.
"Terkadang penyelenggara ini kurang menghitung antara kapasitas dengan jumlah tiket yang dijual. Seolah-olah semua permintaan penonton harus dipenuhi. Padahal kapasitas
performance tadi ada batasnya. Kericuhan dan kegaduhan biasanya berada di situ yakni ketidakseimbangan antara kapasitas panggung dengan dijual ataupun dengan animo penonton. Lalu menimbulkan kerusuhan dan lainnya," pungkas Sunyoto.
Baca juga: Puluhan Penonton Pingsan, Kepolisian Setop Konser NCT 127(est)