LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid sudah menjadi pemandangan lumrah di Pulau Cocos, Australia. Suara adzan penanda shalat lima waktu tiba pun sahut-menyahut terdengar.
Kepulauan Cocos (Keeling) merupakan atol tropis berjarak 2 ribu kilometer dari pantai Australia Barat. Hal menarik dari pulau ini adalah penduduknya yang mayoritas muslim, dengan rasio empat banding satu dari penganut agama lain.
Mengutip
theguardian, Pulau Cocos ditemukan Kapten William Keeling dari East India Company pada 1609 M. Namun, ia tidak menggarap pulau itu dengan baik, hingga datang pedagang Skotlandia John Clunies-Ross dan pedagang Alexander Hare pada awal abad ke-19.
Clunies-Ross membawa pekerja Melayu, Cina, Papua, dan India untuk memanen kopra di sana. Mereka adalah Muslim pertama Pulau Cocos. Clunies-Ross mengambil alih kendali sebagai "raja" pulau yang ditunjuk sendiri.
Pulau tersebut beroperasi sebagai wilayah kekuasaan keluarga sampai diambil alih Australia pada 1955 M. Ketika kecenderungan kolonialis klan Clunies-Ross mengendur, penduduk muslim Sunni yang sebelumnya pekerja menetap di pulau itu.
Nuansa Islam di pulau ini sangat kental ketika ramadhan tiba, terlebih pada hari raya Idul Fitri. Sudah menjadi tradisi masyarakat bergantian mengadakan acara berbuka puasa, baik di masjid maupun di rumah mereka. Begitu pula saat Idul Adha. Bahkan, para wanita pelayan kafe dan warung di pulau ini mengenakan jilbab.
Tahun baru Hijriah juga dirayakan dengan meriah. Masyarakat menggantung lampu-lampu peri di rumah mereka. Orang-orang berkecukupan mengadakan acara makan bersama. Ada pula acara kumpul-kumpul untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia.
Di sisi lain, lokasi pulau ini yang jauh dari daratan membuat budaya tak banyak terkontaminasi. Tidak ada kebisingan dan media jarang menyorotinya. Antropolog Universitas LaTrobe, Nicholas Herriman, menyebut Pulau Cocos “komunitas Islam dan Asia Selatan tertua di Australia."
(jqf)