LANGIT7.ID, Jakarta - Sejumlah aktivis Uighur mendesak Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk segera menyelidiki dugaan kejahatan yang dilakukan China terhadap warga Uighur di Provinsi Xinjiang. Mereka beranggapan memiliki bukti kuat atas kejahatan yang dilakukan otoritas China.
Para aktivis Uighur itu tergabung dalam beberapa organisasi, antara lain Pemerintah Turkistan Timur di Pengasingan, Asosiasi Pengawas Hak Asasi Manusia Turkistan Timur, Asosiasi Solidaritas dan Kerjasama Dunia Turki serta diaspora Uighur yang tinggal di Turki. Mereka mengadakan konferensi pers di sebuah hotel di distrik Zeytinburnu, Istanbul.
Baca juga: Komunitas Muslim Uighur Resmikan Masjid Baru di KanadaKepala Asosiasi Solidaritas dan Kerjasama Dunia Turki, Halit Kanak mendesak ICC untuk menyelidiki China yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing mulai akhir pekan ini. Kanak memiliki bukti yang menunjukkan bahwa jumlah orang Uighur yang dideportasi dari negara tetangga meningkat tajam sejak 2016 hingga 2018. Populasi yang tinggal di sana pun menurun hingga 85 persen.
"Data yang dikumpulkan melalui studi lapangan mendalam di Tajikistan, Kyrgyzstan, Uzbekistan dan Kazakhstan mengkonfirmasi masalah ini," kata Kanak dikutip Kamis (3/2).
Selain itu, Kanak juga mengatakan jika penyelidikan diluncurkan, itu akan menjadi yang pertama di Asia Tengah. Proses penyerahan barang bukti keempat direncanakan dalam beberapa hari ke depan.
Baca juga: Tumben dan Aneh, Israel Kecam China soal Penindasan Muslim UighurSebagai informasi, muslim etnis Uighur di Xinjiang menjadi sasaran pelecehan selama bertahun-tahun karena identitas dan budaya mereka. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), setidaknya satu juta orang Uighur ditahan di luar keinginan mereka di tempat-tempat yang disebut Beijing sebagai pusat pelatihan kejuruan tetapi oleh para kritikus disebut tempat untuk indoktrinasi, pelecehan dan penyiksaan.
Beberapa negara menuduh China melakukan genosida terhadap masyarakat Uighur. Namun, Beijing membantah melakukan kesalahan serta menolak tuduhan itu sebagai kebohongan dan virus politik. (Sumber: Anadolu Agency)
Baca juga: Prancis Investigasi Peritel Mode terkait Buruh Uighur di Xinjiang(asf)