LANGIT7.ID, Jakarta - Buku-buku sejarah masyhur menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai
Al-Ummi. Kata tersebut kerap diartikan sebagai orang yang tidak tahu membaca dan menulis.
Namun, menurut ulama asal Mesir, Maulana Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Rusydi Sayyid Jabr Al-Hasani Hafizhahullah, kata
Al-Ummi tidak bisa diartikan sebagai bodoh baca tulis. Kata 'bodoh' tak pantas disematkan kepada Rasulullah.
"Tidak boleh kita sebut bodoh pada nabi. Namun, 'nabi tidak melakukan menulis dan membaca.' Ada perbedaan antara 'tidak melakukan' dan 'bodoh' membaca menulis," kata Syaikh Yusri melalui kanal
Sanad Media, dikutip Selasa (15/2/2022).
Pemahaman keliru tersebut harus diluruskan. Nabi Muhammad SAW bukan orang bodoh. Beliau hanya tidak melakukan aktivitas menulis dan membaca pada masa itu. Memang, orang Arab kala itu memiliki budaya menghafal, sehingga tidak menulis dan membaca bukan aib.
"Arti '
umiy' bukan berarti bodoh dan bukan berarti tidak tahu," ucapnya.
Kedua,
al-ummi juga memiliki arti tidak ada kitab samawi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Jika belajar karakteristik dakwah nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad, maka didapati seorang nabi hanya diutus untuk satu kaum saja.
Maka tak heran jika ada nabi yang hidup pada masa yang sama tapi berbeda tempat dakwah, meski misi mereka sama yakni membumikan tauhid. Itu yang menjadi latar belakang orang-orang Yahudi menyebut orang-orang Arab sebagai kaum
ummiy'.
"
Umiy' berarti 'sebelumnya tidak ada kitab langit yang diturunkan (padanya)'. Kenapa? Sebab orang Yahudi mengatakan, 'tidak ada dosa bagi kamu terhadap orang-orang '
umiy'. Artinya, setiap orang yang tidak ada kitab langit turun padanya, namanya '
umiy'," ucap beliau.
Ini pula yang menjadi dasar Nabi Muhammad disebut '
umiy. Sebab, sebelum diangkat menjadi rasul, beliau tidak membaca kitab-kitab samawi. Makna ini yang terkandung dalam Al-Qur'an.
"Ini adalah asal makna '
umiy', sedangkan para ulama tafsir mengartikan tidak tahu baca tulis. ini keliru. Al-Qur'an tidak menggunakan makna demikian," kata Syaikh Yusri.
Sebelum Rasulullah diutus, ada banyak sahabat yang bisa membaca dan menulis seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Abdullah Amr bin Ash, Sayyidina Umar bin Khattab, Sayyidina Usman ibnu affan, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Sayyidina Zaid ibn Haritsah.
"Tapi mereka disebut '
umiy', karena sebelumnya tidak turun kitab dari langit. jadi, '
umiy' bukan berarti bodoh baca tulis, tapi 'tidak ada kitab yang turun sebelumnya' dan 'tidak melakukan menulis dan membaca dalam kehidupan normal'," ucapnya.
Nabi Muhammad disebut
Al-Ummi karena tidak pernah membaca suatu kitab samawi sebelum diutus menjadi rasul. Beliau juga tidak menulis kitab karena memang tidak melakukan aktivitas menulis dan membaca.
"Sekiranya engkau (Muhammad) pernah membaca menulis niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya. Dan engkau Muhammad tidak pernah berharap agar kitab itu diturunkan kepadamu, tetapi ia sebagai rahmat dari Tuhanmu," ucapnya, mengutip ayat Qur'an. Saat Al-Qur'an turun, maka sifat
Al-Ummi pun hilang.
(jqf)