LANGIT7.ID, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyakini normalisasi dan tren positif pemulihan ekonomi akibat krisis
pandemi Covid-19 bakal terus berlanjut.
Dia menyebutkan, terdapat tiga kunci utama dalam menyambut normalisasi dan menghadapi risiko penyertanya. Pertama, dalam mendorong normalisasi, pihaknya bakal menguatkan kebutuhan normalisasi agar dapat terkolaborasi, terencana, dan terkomunikasikan dengan baik.
"Tidak hanya berfokus pada pemulihan ekonomi untuk mendorong normalisasi, tapi kami juga siap memitigasi risiko yang ada," ujarnya di Side Event Presidensi G20 Indonesia, Rabu (16/2/2022).
Baca Juga: Ini Agenda Pembahasan Sektor Keuangan Indonesia di Presidensi G20Kedua, menguatkan makro ekonomi dan stabilitas sistem keuangan. Ketiga, menghadapi risiko normalisasi dan mengatur keuangan bilateral untuk mendorong stabilitas perkenomian daerah.
"Kami telah melihat pemulihan ekonomi di tingkat global, sehingga untuk menciptakan kestabilan, kita juga perlu memperhatikan dan meminimalisasi risikonya," kata dia.
Sebab kebijakan normalisasi untuk mendorong pemulihan ekonomi juga membawa dampak risiko yang perlu ditangani. Seperti Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed yang menaikkan suku bunga.
Sehingga pihaknya perlu memastikan agar normalisasi tersebut tetap dapat didukung oleh stabilitas pasar domestik seiring pemulihan ekonomi.
"Inilah yang mendasari isu pemulihan ekonomi kami bawa ke dalam agenda Presidensi G20," katanya.
Baca Juga: Gubernur BI Sebut Digitalisasi Kunci Pemulihan EkonomiUntuk itu, Presidensi G20 yang mengusung tema "Recover Together, Recover Stronger" turut membahas kebijakan fiskal terkait normalisasi, reformasi struktural untuk mengatasi scarring effect dari pandemi, serta melanjutkan pertumbuhan ekonomi.
"Selain memberikan kemudahan dalam pembayaran antar-negara (cross border), kami juga berupaya menjadikan ekonomi dan keuangan hijau agar dapat mendukung perekonomian berkelanjutan," jelasnya.
Melalui proses normalisasi kaitannya dalam kebijakan fiskal dan moneter, pihaknya mengaku optimistis bahwa tren positif pemulihan ekonomi dapat terus berlanjut.
Selain itu, Perry juga menilai bahwa pertumbuhan digitalisasi di Tanah Air turut menyumbang pemulihan ekonomi semakin kuat. Hal itu dapat terlihat dari e-commerce, uang elektronik, dan sistem pembayaran yang semakin inklusif.
"Apalagi pada tahun ini ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh sebesar 4,7-5,5 persen. Seluruh aspek tersebutlah yang mendukung pemulihan ekonomi nasional semakin baik dan kuat," jelasnya.
(bal)