LANGIT7.ID, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Perumahan menyerahkan hunian rumah susun (rusun) senilai Rp6,1 miliar untuk santri Yayasan Luhur Amal Mulia, Pondok Pesantren Miftahul Huda.
Dana tersebut diambil dari pagu anggaran Rp5,1 M Kementerian PUPR untuk program pembangunan rumah susun (rusun), rumah khusus (rusus), hingga bedah rumah. Rusun di Pesantren Miftahul Huda dilengkapi dengan fasilitas meubelair lengkap, sehingga santri diharapkan bisa fokus dan lebih bersemangat dalam belajar.
"Kami terus mendorong pemanfaatan rusun santri yang telah selesai dibangun. Kami berharap para penerima bantuan rusun, baik pemerintah daerah maupun yayasan juga bisa segera membentuk badan pengelola Rusun," kata Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR, Iwan Suprijanto, dalam keterangan pers, Senin (21/2/2022).
Iwan menjelaskan, tujuan pembangunan rusun itu agar para pelajar seperti santri bisa belajar dan tinggal di hunian vertikal dekat tempatnya menuntut ilmu.
Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (P2P) Sumatera III Direktorat Jenderal Perumahan kementerian PUPR, Zubaidi, menyatakan, pembangunan rusun santri tersebut dilaksanakan oleh Satuan Kerja Penyediaan Perumahan Provinsi Riau Balai P2P Wilayah Sumatera III.
"Kami terus melaksanakan pembangunan rusun ponpes ini, meskipun dalam kondisi pandemi. Proses pembangunan rusun ini termasuk cepat, dan kami berharap para santri dapat menuntut ilmu lebih nyaman belajarnya dan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar," ucap Zubaidi.
Berdasarkan data Balai P2P Sumatera III, bangunan Rusun Yayasan Luhur Amal Muli Pondok Pesantren Miftahul Huda terdiri dari satu tower setinggi tiga lantai.
Tipe hunian yang dibangun adalah tipe barak sebanyak hunian 21 unit dan akan dilengkapi dengan muebelair lengkap. Adapun kontraktor pelaksana pembangunan adalah PT Razasa dan Konsultan Manajemen Konstruksi CV Fajar Bahri.
"Total anggaran pembangunan Rusun santri tersebut senilai Rp6.1 miliar. Rusun ponpes ini juga dilengkapi dengan meubelair di setiap hunian berupa tempat tidur susun dan lemari jadi santri tinggal membawa pakaian" ucap Zaibaidi.
(jqf)