Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Penyebab Keliru Memahami Al-Qur'an

Muhajirin Senin, 21 Februari 2022 - 10:54 WIB
Penyebab Keliru Memahami Al-Qur'an
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Era informasi yang terus berkembang membuat banyak orang mencoba memahami Al-Qur'an. Namun, banyak pula yang menafsirkan dengan pemahaman sendiri sehingga melahirkan pemaknaan yang keliru.

Banyak pula penyebab yang menjadikan seseorang salah memahami maksud sebenarnya dari Al-Qur'an sehingga berpotensi menyebarkan pemahaman itu kepada orang awam.

Ahli tafsir Quraish Shihab mengatakan, ulama dahulu pun bisa keliru, karena memang tidak ada tafsir yang terbaik, pasti ada kekeliruan di dalamnya. Namun, kekeliruan itu masih bisa dimaklumi. Berbeda dengan kesalahan fatal orang awam yang menimbulkan kesalahpahaman.

"Maka itu, ulama memberi rambu-rambu dalam menafsirkan Al-Qur'an," kata Quraish Shihab melalui akun YouTube-nya, dikutip Senin (21/2/2022).

Quraish Shihab mencontohkan satu pernyataan yang sering menimbulkan kesalahpahaman, misalnya terkait Al-Qur'an sebagai kalamullah. Jika tidak memahami Qur'an sebagai kalamullah, maka seseorang bisa memahami ada tuhan selain Allah jika membaca Surah Al-Fatihah ayat 5 dan Surah Thaha ayat 14.

"Kalau tidak jeli, Anda salah, 'Oh, itu masih ada tuhan selain Tuhan. Karena itu, kata Ulama, berhati-hatilah memperhatikan siapa yang menyampaikan dan siapa pemilik (ucapan)," kata Quraish Shihab.

Terdapat uraian dalam Al-Qur'an yang berbicara tentang orang-orang tertentu, bukan untuk semua orang. Misal dalam Surah Yasin ayat 10. Ayat itu hanya ditujukan kepada orang tertentu saja, tapi menjadi pelajaran bagi semua orang.

Sama halnya ketika ada orang yang membandingkan godaan wanita dan godaan setan. Dalam Surah Yusuf ayat 28 disebutkan godaan wanita sangat kuat, sementara dalam Surah An-Nisa ayat 78 dikatakan godaan setan sangat lemah.

Asbabun nuzul penting dipelajari dalam hal ini. Surah Yusuf itu bercerita tentang seorang suami yang diselingkuhi oleh istrinya, sehingga mengatakan tipu daya wanita sangat kuat. Berbeda dengan Surah An-Nisa. Pada ayat itu, Allah yang menegaskan bahwasanya tipu daya setan itu sangat lemah.

"Jadi tidak bisa dibandingkan. Sama hal mau menyamakan anak kecil dan orang dewasa dalam mengangkat satu meja, tentu berbeda. Itu sering kali salah seperti itu, padahal tidak demikian," kata Quraish Shihab.

Belum lagi kesalahan-kesalahan penafsiran yang salah karena tidak mengerti bahasa Arab. Seperti ungkapan yang menyebut manusia pertama itu adalah perempuan, karena berlandaskan Surah An-Nisa ayat pertama.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

Kata wahidatin itu menunjukkan feminim. Banyak pula yang tidak memahami bahwa kata nafsin merupakan muannats majazi. Tidak pula mengerti bahwa kata zauj bukan berarti suami, tapi kata itu berarti pasangan.

Sama halnya dalam Surah Al-Maidah ayat 93. Allah berfirman, "Tidak berdosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang mereka makan (dahulu), apabila mereka bertakwa dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, selanjutnya mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."

Ayat tersebut turun berkaitan dengan larangan minum khamr. Kala itu, ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah terkait orang-orang Islam yang meninggal dunia sebelum larangan minum khamr diturunkan. Allah pun menurunkan ayat tersebut untuk menjawab pertanyaan itu.

Belum lagi orang-orang yang menyebut Al-Qur'an sebagai budaya. Quraish Shihab menyarankan agar setiap orang mempelajari segi kemukjizatan Al-Qur'an sebelum masuk ke pelajaran tafsir.

Mempelajar Al-Qur'an sebagai mukjizat akan menimbulkan pemahaman bahwa kitab suci itu bukan karangan Nabi Muhammad SAW. Minimal pelajari tiga konsep mukjizat terkait Al-Qur'an, seperti susunan kata-kata Qur'an, isyarat ilmiahnya, dan berita ghaib dari Al-Qur'an.

"Melalui alat canggih ditemukan kota Iram (Kota Kaum 'Ad dan kaum Hud), melalui alat canggih ditemukan perahu Nuh di bukit al-Judiy, melalui temuan arkeologi ditemukan jasad Fir'aun, tidak mungkin Nabi Muhammad tahu jika bukan (lewat) wahyu," ucap Quraish Shihab.

Di sini letak pentingnya memahami dan mempelajari kemukjizatan Al-Qur'an. "Nabi Muhammad sendiri yang menegaskan, bukan dia yang mengarang Al-Qur'an. Allah sendiri menantang, kalau kamu ragu coba buat seperti Al-Qur'an. Sebab, kalau sudah tidak percaya bahwa Al-Quran adalah kalamullah, maka sudah gampang anda tolak," ucapnya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)