LANGIT7.ID, Jakarta - Militer Rusia melancarkan serangan ke Ukraina atas perintah Vladimir Putin. Para pemimpin dunia mengingatkan, 'operasi militer khusus' itu bisa memicu perang terbesar di Eropa sejak 1945.
Kamis (24/2/2022), hanya selang beberapa menit pidato singkat Putin disiarkan di televisi, sekitar pukul 05.00 pagi waktu Ukraina, ledakan terdengar di dekat kota-kota besar Ukraina. Termasuk di ibu kota Kyiev.
Cakupan serangan Rusia itu sangat besar. Kementerian Dalam Negeri Ukraina melaporkan, Ukraina diserang dengan rudal jelajah dan balistik. Rusia menargetkan infrastruktur di dekat kota-kota besar seperti Kyiev, Kharkiv, Mariupol, dan Dnipro. Ledakan roket itu menerangi langit saat penembakan dimulai di dekat Mariupol.
Seorang penasihat senior kementerian dalam negeri Ukraina mengatakan, Rusia segera bergerak ke Karkiv, yang berjarak sekira 20 mil dari perbatasan. Penduduk setempat di Kyiev mencari perlindungan ketika ledakan terdengar di luar kota.
Sirine serangan udara terdengar di ibu kota dan penduduk Kharkiv berlindung di metro kota. Pemandangan itu belum pernah terlihat di kota-kota tersebut sejak 1941.
“Putin baru saja meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina. Kota-kota Ukraina yang damai sedang diserang. Ini adalah perang agresi. Ukraina akan mempertahankan diri dan akan menang. Dunia dapat dan harus menghentikan Putin. Waktunya untuk bertindak adalah sekarang," kata menteri luar negeri Ukraina, Dmytro Kuleba, dikutip
The Guardian, Kamis (24/2/2022).
Putin mengklaim, Ukraina tengah menyebarkan semangat anti-Rusia di negara tersebut. Itu yang membuat Putin memerintahkan operasi militer khusus. Itu sama saja dengan deklarasi perang.
Dia mengklaim tindakan itu untuk demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina serta menggemakan tema propaganda anti Kremlin. Ia juga menyebut bahwa pemerintah Kyiev dikendalikan oleh sayap kanan.
"Kami tidak bermaksud untuk menduduki Ukraina. Kepada siapa pun yang akan mempertimbangkan untuk ikut campur dari luar: jika Anda melakukannya, Anda akan menghadapi konsekuensi yang lebih besar daripada yang pernah Anda hadapi dalam sejarah. Semua keputusan yang relevan telah diambil. Saya harap Anda mendengar saya," kata Putin.
Saat Putin berpidato, ledakan pertama dilaporkan. Dewan keamanan PBB mengadakan rapat darurat. PBB mengeluarkan seruan, “Presiden Putin, hentikan pasukan Anda menyerang Ukraina. Beri kesempatan damai. Terlalu banyak orang yang sudah meninggal."
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengeluarkan pernyataan tertulis yang mengatakan, serangan Rusia tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan. "Presiden Putin telah memilih perang yang direncanakan yang akan membawa korban jiwa dan penderitaan manusia yang besar,” kata Biden.
“Rusia sendiri bertanggung jawab atas kematian dan kehancuran yang akan ditimbulkan oleh serangan ini, dan Amerika Serikat serta sekutu dan mitranya akan merespons dengan cara yang bersatu dan tegas. Dunia akan meminta pertanggungjawaban Rusia," kata Biden melanjutkan.
Tanggapan Presiden UkrainaPresiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menanggapi serangan tersebut. Dia merekam pernyataan melalui video setelah upaya meminta kesediaan Putin berbicara tidak berhasil. Dalam video itu, dia bersumpah akan mempertahankan Ukraina.
“Jika seseorang mencoba untuk mengambil tanah kami, kebebasan kami, hidup kami, kehidupan anak-anak kami, kami akan membela diri. Dengan menyerang, Anda akan melihat wajah kami, bukan punggung kami, tetapi wajah kami," kata Volodymyr.
Para analis militer memperkirakan, Putin akan mengirim pasukan untuk merebut dan mengepung ibu kota Kyiv. Terdapat laporan dari media pemerintah Rusia pada Kamis malam (23/2/2022), pasukan udara telah merebut bandara di Boryspil dekat Kyiev.
Beberapa ledakan terdengar setelah Putin mengumuman operasi militer tersebut. Ledakan itu terdengar di Kramoatosk, markas besar pusat operasi tentara Ukraina di dekat wilayah yang dikuasai Rusia di tenggara Ukraina.
Rusia tampaknya menargetkan infrastruktur militer dalam serangan awal pada Kamis pagi. Ledakan dilaporkan terjadi di lapangan terbang, markas militer, dan di gudang militer.
Serangan Kamis pagi itu didahului dengan serangan siber besar-besar yang menarget kementerian dan Bank Ukraina. Pekan-pekan sebelumnya, Putin mengirim sekitar 190.000 tentara di dekat perbatasan Ukraina.
Militer Rusia mengklaim tidak menargetkan pusat-pusat keramaian penduduk. Mereka hanya menarget militer, fasilitas pertahanan udara, lapangan terbang militer, dan penerbangan tentara Ukraina.
Namun, analis militer mempertanyakan tindakan tersebut. Para analis percaya Rusia akan melakukan invasi darat.
“Rusia memiliki kemampuan menembak dari udara, laut, dan darat yang sangat efektif tetapi tidak memiliki persediaan amunisi berpemandu presisi yang besar, itulah sebabnya serangan darat tampaknya dimulai segera setelah serangan pertama. Rusia memiliki setiap insentif untuk bergerak secepat mungkin,” tulis Rob Lee, Anggota Senior di Program Eurasia Lembaga Penelitian Kebijakan Luar Negeri.
(jqf)