LANGIT7.ID, Jakarta - Asal-usul adzan sebagai tanda waktu shalat masuk harus diteropong menggunakan ilmu hadits. Ini agar umat Islam tidak salah dalam memahami kumandang lima kali sehari itu.
Satu hal yang harus dipahami, hadits tidak hanya berarti ucapan dan perbuatan baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam ilmu hadits dijelaskan, hadits merupakan sesuatu yang diucapkan oleh nabi, dilakukan oleh beliau, dan dilakukan oleh sahabat lalu Rasulullah menyetujui.
"Semua satu paket. Ini harus dipahami. Biar pun mimpi atau bukan mimpi, tapi nabi menyetujui, maka itu satu paket," kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, melalui kanal
Al-Bahjah TV, dikutip Kamis (23/2/2022).
Ustadz Ahmad Zarkasih dalam bukunya
Adzan, Hanya Sebagai Penanda Waktu Shalat? menyebutkan, ada beberapa riwayat yang menyebutkan adzan sebagai syariat untuk panggilan shalat berjamaah.
Namun, riwayat paling kuat adalah adzan pertama kali dikumandangkan di Madinah pada tahun pertama Hijriah. Pada tahun itu pula, Rasulullah membangun masjid yang kini dikenal Masjid Nabawi.
Tahun itu pula adzan disyariatkan. Itu berawal saat baginda nabi bermusyawarah dengan para sahabat tentang tindakan tepat yang bisa dilakukan sebagai penanda waktu shalat. Mengutip buku
Sejarah Ibadah karya Syahruddin El-Fikri, ada beberapa usulan dari sahabat terkait hal itu.
Ada yang mengusulkan pengibaran bendera saat waktu shalat tiba. Forum tidak setuju dengan usulan itu, karena tidak dapat dilihat oleh orang tidur dan lalai. Lalu usulan kedua, ditiup terompet dan menyalakan api di bukit yang tinggi. Ada pula yang mengusulkan dibunyikan lonceng. Namun usulan itu ditolak oleh nabi karena menyerupai Yahudi dan Nasrani.
Kala Itu, Rasulullah mengganti usulan itu dengan lafal
Asshalatu jami'ah (marilah shalat berjamaah). Umar bin Khattab lalu mengusulkan agar ditunjuk orang yang bertindak sebagai pemanggil kaum muslimin untuk shalat pada waktunya.
Usulan Umar itu disetujui forum. Namun, pada suatu kesempatan, kalimat yang diusulkan nabi SAW diganti dengan kalimat tauhid seperti yang dikumandangkan saat ini. Abu Dadu mengisahkan, Abdullah bin Zaid berkata:
"Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk shalat dimusyawarahkan. Suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud menjual lonceng itu. Aku pun bertanya kepadanya, 'Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng itu?'
Dia berkata, 'Apa yang akan engkau lakukan dengannya?'
Maka kujawab, 'Kami akan gunakan lonceng itu sebagai panggilan shalat.'
Dia pun berkata, 'Mau engkau kuberi tahu (panggilan) yang lebih baik dari (bunyi lonceng) itu?'
Aku menjawab, 'Ya!' Lalu, dia berkata lagi dan kali ini dengan suara yang amat lantang.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu Anlaa ilaaha illallah
Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah
Hayya 'alash shalah
Hayya 'alal falah
Allahu akbar Allahu akbar
Laa ilaaha illallah
Keesokan harinya, Abdullah bin Zaid mendatangi Rasulullah SAW dan menyampaikan perihal mimpi itu. Nabi pun berkata, mimpi itu adalah mimpi yang benar.
Rasul kemudian menyuruh untuk mengajarkannya kepada Bilal, karena Bilal memiliki suara yang sangat lantang. Ketika Umar bin Khattab mendengarnya, ia berkata kepada nabi, "Demi Allah, apun bermimpi seperti itu juga." Dengan demikian, orang yang pertama kali mengumandangkan adzan adalah Bilal bin Rabah.
Makna IqamatDai kondang Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, iqamah dalam konteks berjamaah merupakan isyarat shalat siap dilaksanakan bagi jamaah yang hadir. Iqamah merupakan isyarat untuk mulai mengkhusyukkan keadaan hati jamaah.
Berbeda dengan adzan, iqamah bukan penanda waktu shalat tiba, tetapi tanda jamaah harus segera mulai khusyuk. Itu sesuai dengan tafsir Surah Al-Baqarah ayat 45-46.
"Jadi, kalau iqamah sudah disampaikan, bukan sekarang mau mulai shalat, bukan. Anda harus mulai siap-siap untuk khusyuk," ucap Adi Hidayat, melalui kanal
Al-Akhyar TV.
Khusyuk memang tidak mudah. Arti khusyuk yakni merasakan bahwa akan berhadapan dengan Allah. Perasaan itu harus mulai dihadirkan saat iqamah dikumandangkan. Saat iqamah dikumandangkan, orang yang benar-benar khusyuk akan berpenampilan terbaik. Itu sesuai dengan Qur'an Surah ke-17 ayat 31.
Selain berpenampilan terbaik, orang khusyuk juga akan menyempurnakan wudhu. "Anda ketemu orang mandi dulu, bersih-bersih, minimal cuci muka. Ketemu Allah pasti wudhunya sempurna, Qur'an Surah ke-5 ayat ke-6," ucap Adi Hidayat.
(jqf)