LANGIT7.ID, Jakarta - Imran bin Matsan bukan seorang nabi, namun namanya tertulis sebagai salah satu nama surah dalam Al-Qur'an. Ia dan keluarganya mendapat tempat mulia di sisi Allah Ta'ala, sehingga patut menjadi contoh bagi umat Muhammad SAW.
Kisah keluarga Imran menjadi inspirasi bagi setiap keluarga muslim, terutama para orang tua yang berharap memiliki keturunan mulia. Imran dan istrinya, Hannan, menjadi contoh sebagai keluarga yang berhasil membangun keluarga bahagia penuh kasih sayang, dan ketakwaan kepada Allah Ta'ala.
Pada akhirnya, keluarga Imran melahirkan generasi mulia dan memiliki peran besar bagi umat manusia.
Keluarga Imran menyiapkan generasi terbaik, bahkan dengan perencanaan yang dibuat sebelum Hannan mengandung. Keduanya selalu berdoa agar dikaruniai keturunan yang senantiasa dekat kepada Allah, menjadi generasi mulia dunia dan akhirat, serta menjadi kebanggaan keluarga besarnya.
Ketika mengandung pun, Hannan terus memohon dan bernazar agar anaknya itu menjadi hamba terpilih, taat, mengabdi, dan mendapatkan bimbingan serta penjagaan dari Allah.
Saat sang bayi lahir, Imran dan Hannan memberikan nama sesuai dengan perencanaan dan harapan mereka. Itu agar sang anak menjadi manusia yang taat dan mendekatkan diri kepada Allah. Keduanya memberikan nama terbaik yakni Maryam, disertai doa agar terhindar dari godaan setan.
Dai kondang Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengatakan, Imran dan Hannan tak hanya sekadar mencukupkan harapan pada sebuah doa yang dibangun ketika bayi baru lahir dengan cita-cita yang tinggi. Namun, keduanya kompak menyiapkan tempat terbaik.
"Bagaimana Hannan bisa menyiapkan anak perempuannya Maryam agar terkonsentrasi, bisa mendekat kepada Allah dengan cita-cita yang telah disepakati dengan suami yang sangat dicintai. Mihrab menjadi pilihan," kata UAH melalui akun
YouTube-nya, dikutip Jumat (25/2/2022).
Tak sampai di situ, untuk mewujudkan generasi yang mulia, Imran dan Hannan pun memilih pembimbing yang pintar, bijak, dan shaleh bagi Maryam. Keduanya meminta Nabi Zakaria agar membimbing Maryam menjadi manusia yang dekat dengan Allah.
Ikhtiar yang dilakukan Imran dan Hannan dari fase perencanaan, memohon, memberi nama terbaik, menyiapkan tempat yang sesuai, dan memilihkan pembimbing yang tepat akhirnya memperoleh keridhaan Allah Ta'ala.
Allah menerima ikhtiar Imran dan Hannan dengan memberi perhatian, mencukupi kebutuhan, membimbing, dan memberikan penjagaan dalam kehidupan Maryam. Maryam bukan nabi dan rasul, Imran dan Hannan pun demikian.
"Keluarga ini manusia seperti kita, namun mendapatkan keistimewaan dari Allah karena mereka membangun tarbiyah utsariyah, tarbiyah keluarga yang bercita-cita mendekatkan diri pada Allah," ucap UAH.
Pelajaran Penting dari Keluarga ImranDalam kisah keluarga Imran yang termaktub di Surah Ali Imran ayat 33-37, terdapat pesan bagi setiap orang tua untuk menyiapkan generasi terbaik dengan perencanaan sejak dini.
Mengambil pelajaran dari Imran dan Hannan, UAH mengajak setiap orang tua mulai membangun cita-cita mulia terhadap anak-anak, bahkan ketika seorang istri belum mengandung.
Setelah itu, UAH menjelaskan, orang tua pun harus memberikan nama terbaik. Akan lebih baik bila memberikan nama pada anak sesuai dengan cita-cita kedua orang tua. Misal, jika menginginkan anak ahli Qur'an bisa memberi nama Muhammad Ahlul Qur'an.
"Ingin paham hadits, berikan nama Muhammad Fahmil Hadits, ingin ahli fikih berikan Muhammad Faqihul Islam. Seperti Hannan dan Imran memberikan nama Maryam sesuai cita-citanya," tutur UAH.
Selain itu, orang tua berperan memberikan fasilitas yang baik dan tepat agar dapat mendekatkan anak dengan cita-cita yang diharapkan. Semisal mengharapkan anak menjadi seorang ahli Qur'an, orang tua harus menyiapkan segala hal yang dapat mendekatkan dan mengantarkan anak menjadi ahli Qur'an.
Setelah itu, orang tua perlu menemukan pembimbing terbaik, agar bisa mengarahkan anak sesuai cita-cita yang diharapkan.
"Bila ikhtiar telah sempurna, biarkan firman Allah yang bicara, biarkan takdir Allah yang berjalan, dan biarkan kekuasaan Allah yang meneruskan seluruh ikhtiar kita untuk menyempurnakan dari apa yang dijanjikan. Allah berjanji akan menerima, merawat, memperhatikan, dan memberikan segala yang dibutuhkan dalam setiap generasi yang dicita-citakan," ucap UAH.
(jqf)