LANGIT7.ID - , Jakarta - Belakangan masyarakat mulai menunjukkan kesadaran akan pentingnya konsep bangunan berkelanjutan atau bertanggung jawab terhadap lingkungan. Alhasil di berbagai lini pun mulai mengusung konsep
sustainability, seperti desain rumah.
Rumah berkelanjutan merupakan konsep hunian yang penggunaan bahannya berasal dari sumber daya yang ramah lingkungan. Melihatnya bahan yang digunakan, bisa dipastikan rumah
sustainable memiliki banyak manfaat untuk lingkungan.
Namun, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah akankah rumah berkelanjutan menjadi tren?
Baca juga: Rumah Berkelanjutan Jangan Hanya Dilihat dari Satu Aspek"Untuk saat ini saya belum melihat isu sustainability itu menjadi tren. Saya pribadi tidak menginginkan rumah
sustainability menjadi tren karena itu cuma sepintas lalu. Sekarang datang, besok pergi," kata Mantan Sekretaris Jendral Ikatan Arsitektur Indonesia Nasional, Ariko Andikabina, saat dihubungi Langit7.id dalam satu kesempatan.
Ariko justru berharap rumah berkenalnjutan itu menjadi kebutuhan, bukan hanya sekedar tren. Karena itu, namanya sustainable yang artinya berkelanjutan. Sedangkan tren pasti tidak berkelanjutan.
Menurut Ariko, tren selalu dikaitkan dengan kontrolaritas atau keterkendalian. Jadi ia akan berbicara tentang kontemporer, makanya trend seringkali dikaitkan dengan citra atau image dengan hal-hal
tertentu."Sustainability itu jangan dianggap sebagai tren tetapi sebagai kebutuhan. Jika, tidak, maka kita dalam kondisi yang tidak baik-baik saja atau berbahaya," ucap alumni Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.
Lebih lanjut, pria kelahiran 1979 ini mengaku bingung terkait tolak ukur rumah berkelanjutan yang dapat dikatakan tren itu seperti apa. Karena, tambahnya kalau dilihat dari angka pasar, belum ada perumahan yang mengusung konsep ini.
Baca juga: Dorong Pembangunan Berkelanjutan Inklusif, Pemerintah Fokus Ekonomi Hijau"Ini dalam konteks perumahan, mereka memberi nama misalnya Taman Asri dan lainnya, seolah-olah
sustainablity tapi sejauh mana
performance-nya, bisa dibuktikan? Saya masih ragu," ungkapnya.
Akan tetapi, Ariko tidak menapik bahwa memang saat ini telah ada yang memiliki rumah berkonsep
sustainablity di Indonesia. Namun, ia ragu mengatakannya sebagai tren.
"Saya berharap tidak menjadi tren, melainkan menjadi kebutuhan. Karena kalau kita berbicara tentang kebutuhan, tidak peduli itu sampai kapanpun itu ia akan tetap utuh," tutupnya.
(est)