LANGIT7.ID, Jakarta - Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pedagang ulung yang sukses. Ilmu berbisnisnya itu juga diajarkan kepada para Sahabatnya, salah satunya
Usman bin Affan.
Ustadz Budi Ashari mengatakan, Sahabat sebelum meraih kesuksesan dan mendulang harta telah dibekali ilmu yang cukup komprehensif oleh Nabi SAW, termasuk soal bersikap kepada harta.
"Inilah yang umat saat ini belum miliki. Jadi untuk bisa sukses
bisnis dan mendapatkan kekayaan yang berkah, kita perlu melandasi diri dengan sikap kepada harta," kata dia dikanal YouTube Masjid Al-Irsyad TV, dikutip Senin (14/3/2022).
Baca Juga: Asal Muasal Adzan Melalui Mimpi Sahabat Nabi, Benarkah?Pembina Lembaga Kuttab Al-Fatih dan Madrasah Al-Fatih seluruh Indonesia ini menjelaskan, jika umat ingin belajar kesuksesan, maka belajarlah dari generasi terbaik.
Sebab Rasulullah mengajarkan kepada para Sahabatnya untuk tidak hanya sukses secara materi semata. Namun juga berikut dengan kaidah dan rambu yang melandasinya.
"Usman bin Affan mencapai harta sebanyak itu, pertama karena dia terjun langsung mengurusi bisnisnya," jelas dia.
Artinya, Usman bin Affan tidak mewakilkan bisnisnya kepada orang lain. Ini penting dilakukan diawal menjalankan bisnis, sehingga pebisnis pemula tidak kewalahan dalam mengeluarkan modal lebih banyak untuk memikirkan gaji pegawai.
Dengan begitu, pebisnis pemula akan mendapatkan banyak pengalaman, termasuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan.
"Selain itu, Usman bin Affan juga terus mengembangkan bisnisnya. Maksudnya, keuntungan yang dia dapatkan tidak dinikmati semua, justru sebagiannya dikembalikan sebagai modal," katanya.
"Ini sesuai dengan Nabi SAW yang menceritakan dalam hadisnya, tentang seseorang yang dengan ajaib di kebunnya dihujani oleh Allah, sementara kebun lainnya tidak."
"Ketika ditanyakan kepada si pemilik kebun yang selalu mendapat hujan, ternyata dia selalu membagi hasil panennya menjadi tiga. Sepertiga untuk dinikmati hasilnya, sepertiga dikembalikan menjadi modal, dan sisanya untuk sedekah," jelasnya.
Sahabat Nabi ini juga tidak meremehkan keuntungan bisnis. Artinya, untung sekecil apapun diambil, ketimbang harus menunggu untung besar.
"Jadi walaupun (untung) kecil, tidak pernah diremehkan, dan selalu ini menjadi syukur. Sekecil apa pun keuntungan, tetap untung, dan bukan kerugian," jelasnya.
Selanjutnya, Usman bin Affan juga tidak membeli yang tua. Artinya, dia tidak membeli barang dagang yang merupakan stok lama.
"Dia juga memecah modalnya, dari satu modal menjadi dua modal. Jadi Usman RA tidak akan menghabiskan satu modal untuk satu bisnis, melainkan dia menggunakan modal yang ada untuk dua bisnis yang berbeda," katanya.
Menurutnya, hal itu dilakukan untuk menghindari kerugian dalam bisnis. Sebab, ketika satu sektor bisnis mengalami kerugian, maka dia masih memiliki satu sektor bisnis lain yang bisa menjadi penopang.
(bal)