LANGIT7.ID - , Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkonfirmasi varian hibrida Delta-Omicron yang disebut Deltacron. Varian baru ini sudah menyebar di sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Denmark, dan Belanda.
Hal tersebut disampaikan WHO dalam sebuah konferensi pers pada Rabu (10/3/2022) lalu.
Pemimpin teknis Covid-19 WHO, Maria Van Kerkhove mengatakan para peneiliti menyebut varian baru ini tingkat deteksinya masih sangat rendah. Dan banyak negara yang mengawasi terkait hibrida virus rekombinan varian Delta dan Omicron.
Baca juga: Gabungan Varian Delta dan Omicron Ditemukan, Ini Kata WHOMelansir Health, Selasa (15/3/2022), organisasi ilmuwan di seluruh dunia berbagi data virus juga mengonfirmasi kemunculan Deltacron yang sudah menyebar di sejumlah negara di Eropa.
Temuan tersebut dimuat di laman resmi Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). Berdasarkan data yang dihimpun dan dilaporkan dari Institut Pasteur Prancis menjadi "bukti kuat pertama untuk virus rekombinan Delta-Omicron," yang sudah menyebar sejak awal Januari 2022.
Laporan Deltacron pertama kali beredar pada awal Januari setelah Leondios Kostrikis, ahli virus di Siprus, mengatakan timnya menemukan kombinasi varian Delta dan Omicron. Ia adalah orang pertama yang secara terbuka memberi label Deltacron.
Saat itu, Kostrikis dan timnya menemukan 25 kasus Deltacron dan lebih sering terjadi pada orang yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 daripada mereka yang memiliki kasus ringan.
Baca juga: Atasi Gejala Omicron dengan 5 Obat Herbal IniLantas, apa itu virus Rekombinan?
Seorang sarjana senior di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins, Amesh A. Adalja, MD mengatakan virus rekombinan merupakan salah satu yang dibuat dari setidaknya dua virus lain.
"Virus rekombinan adalah virus yang memiliki bagian dari dua virus atau lebih sebagai bagian dari materi genetiknya sebagai akibat dari infeksi lebih dari satu galur," kata Adalja.
Ketika suatu organisme terinfeksi dengan dua jenis virus, jelasnya, hal itu memungkinkan virus untuk bercampur dan menghasilkan virus baru. Virus rekombinan tidak unik untuk COVID-19, tambah Dr. Adalja.
Deltacron kemungkinan dihasilkan dari satu orang yang terinfeksi dua jenis COVID-19 pada saat yang sama, ujar Kepala Penyakit Menulai di Universitas Buffalo, New York, Thomas Russo.
"Kedua virus perlu berada di tubuh mereka pada saat yang bersamaan," katanya.
Virus rekombinan tidak unik untuk COVID-19 dan sangat umum pada virus influenza, mereka bergabung kembali sepanjang waktu, ucap William Schaffner, MD, spesialis penyakit menular dan profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt.
Baca juga: Libur Panjang Menjadi Pemicu Kenaikan Kasus Covid-19 Varian OmicronAda banyak hal yang tidak di ketahui tentang Deltacron saat ini, kata Dr. Russo. Misalnya, kasus Deltacron tidak sebanyak kasus gelombang Delta dan Omicron, tetapi mungkin ada lebih banyak infeksi Deltacron daripada yang disadari para ilmuwan saat ini.
“Ini sangat sedikit yang teridentifikasi sejak awal Januari, sehingga tidak memiliki keunggulan selektif,” kata Dr Russo.
Dengan kata lain, jika Deltacron lebih menular daripada Omicron, mungkin kasusnya sudah lepas landas saat ini. Namun, Schaffner menambahkan, sangat sulit untuk mengatakan tingkat bahaya Deltarocn untuk saat ini.
"Masih relatif baru," katanya. "Sepertinya varian Deltacron ini akan terus dilindungi oleh vaksin saat ini. Tetapi seberapa luas penyebarannya dan apakah itu dapat menghasilkan penyakit yang lebih parah, masih awal."
Van Kerkhove berbagi pesan serupa dalam konferensi persnya, menambahkan bahwa para ilmuwan saat ini sedang mempelajari varian tersebut. "Kami belum melihat perubahan epidemiologi, perubahan keparahan, tetapi ada banyak penelitian yang sedang berlangsung," katanya.
(est)