LANGIT7.ID, Jakarta - Allah menganjurkan hamba-hambanya senantiasa berdoa kepaa-Nya. Setiap doa yang ditujukan kepada Allah pasti dikabulkan.
Namun, Allah menekankan agar hamba-Nya memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya agar mereka selalu mendapat petunjuk. Sebagaimana yang tertuang dalam Surat Al Baqarah ayat 186.
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ
يَرْشُدُوْنَ
Arti:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.Surat Al-Baqarah ayat 186 mengisyaratkan bahwa Allah berjanji mengabulkan doa para hamba-hambanya. Hamba (عِبَادِيْ) yang dimaksud pada ayat ini adalah hamba-hamba Allah yang taat kepada-Nya.
Baca juga: Tafsir Al-Baqarah 184-185: Mereka yang Boleh Tidak Puasa RamadhanKalaupun mereka penuh dosa, mereka sadar akan dosanya serta mengharap pengampunan dan rahmat Allah, sebagaimana dijelaskan Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah Jilid I.
Pemilihan bentuk kata ‘ibad serta penisbatannya kepada Allah mengandung isyarat bahwa vang bertanya dan bermohon adalah hamba-hamba-Nya yang taat lagi menyadari kesalahannya itu.
Lantas, bagaimana dengan orang yang terlena dalam dosa-dosanya?
Quraish Shihab melanjutkan, pada ayat tersebut Allah langsung menjawab dengan redaksinya, yakni ...maka sesunggungnya Aku dekat, tanpa menyuruh Nabi Muhammad mengatakan “jawablah” terlebih dahulu. Hal ini mengisyaratkan bahwa berdoa kepada Allah tanpa perantara dan bisa dilakukan siapa saja meskipun bergelimang dosa.
Adapun anak kalimat “orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,” menunjukkan bahwa bisa jadi ada seseorang yang bermohon tetapi dia belum lagi dinilai berdoa oleh-Nya.
Sebab pada praktiknya saat ini terdapat orang yang memohon sesuatu justru dengan mendatangi tempat keramat, lewat perantara, dan sebagainya.
Baca Juga: Umat Diminta Tak Tergiur Bisnis yang Menjanjikan MaterialismeQuraish Shihab menjelaskan, yang dinilai-Nya berdoa antara lain adalah yang tulus menghadapkan harapan hanya kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya, bukan juga yang menghadapkan diri kepada-Nya bersama dengan selain-Nya. Ini dipahami dari penggunaan kata kepada-Ku.
(sof)