LANGIT7.ID - , Jakarta - Nama Kanti Utami, warga Desa Tonjong, Brebes, Jawa Tengah, tengah menjadi perbincangan publik karena menganiaya tiga anaknya dengan senjata tajam, hingga salah satunya tewas. Tragedi tersebut terjadi pada Ahad (20/3/2022). Disinyalir, Kanti melakukan penganiayaan tersebut dipicu desakan ekonomi sehingga dirinya mengalami depresi.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Sunyoto Usman mengatakan fenomena depresi pada perempuan bisa ditelusuri dari peran dan statusnya dalam tiga ranah, yaitu keluarga kecil, keluarga besar atau
extended family dan di rana masyarakat.
Baca juga: Salahkah Seseorang Terlahir dengan Privilege? Ini Kata Sosiolog UGMMenurut Sunyoto, depresi terjadi ketika harapan-harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Kemungkinan lainnya akibat pergeseran peran perempuan yang tidak lagi sentral seperti dulu.
"Dalam keluarga kecil, biasanya wanita dijadikan sebagai media transfer knowledge, pengetahuan itu diberikan kepada anak-anaknya. Bisa dilihat, di rumah banyak peran yang dilakukan oleh ibu daripada ayah," kata Sunyoto kepada Langit7, Rabu (23/3/2022).
Di ranah keluarga besar, lanjut dia, perempuan berperan sebagai penyambung jaringan keluarga besar. Misal perempuan bisa menjadi bagian penting untuk memperluas dan memperkuat marga suami karena ia sudah mengikuti keluarga pasangannya itu.
"Pada
extended family, saat ini sudah banyak ke sektor publik contoh bekerja. Jadi, peran perempuan sebagai media transfer
knowledge melemah karena anak-anak sudah mendapatkan
knowledge dari media sosial," katanya.
Selanjutnya, Kaprodi S3 Politik Islam Pasca Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini mengatakan di sektor publik, perempuan dihadapkan dengan pembagian peran publik dan domestik.
Baca juga: Sosiolog: Perilaku Konsumtif Harus Diimbangi Kemampuan FinansialMeskipun sudah berada di ranah publik tetapi ia juga harus memiliki peran di sektor domestik. Ini merupakan peran yang tidak mudah, apalagi ketika menyatukan kedua peran besar tersebut.
Hal inilah bisa menjadi salah satu faktor perempuan terkena depresi. Karena peran-perannya terkikis, tidak lagi sentral seperti dulu.
"Dan ini tidak ada hubungannya dengan profesinya. Tetapi dilihat seberapa jauh ia memiliki peran
transfer of knowledge dalam keluarga, perkuat keluarga besarnya, dan membagi keseimbangan domestik dan publik," pungkasnya.
Lantas, bagaimana mengatasinya? Sunyoto mengatakan peran lembaga-lembaga sosial sangat penting, misalnya dengan membuka konsultasi pada ibu rumah tangga dan sebagainya.
Baca juga: Tren Sewa iPhone, Sosiolog: Era Sekarang, Hal Simbolik Melebihi FungsinyaTidak hanya itu, Sunyoto melanjutkan, aturan-aturan yang dibuat juga harus jelas antara domestik dan publik. Artinya tidak boleh memberikan tekanan yang berlebihan pada perempuan.
(est)