LANGIT7.ID - , Jakarta - Penyakit tuberkulosis (TBC) di Indonesia menempati peringkat ketiga setelah India dan Cina dengan jumlah kasus 824 ribu dan kematian 93 ribu per tahun atau setara dengan 11 kematian per jam.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes RI, Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes menjelaskan ada 91 persen kasus TBC di Indonesia adalah TBC paru yang berpotensi menularkan pada orang sehat di sekitarnya.
Saat ini, penemuan kasus dan pengobatan TBC yang tinggi telah dilakukan di beberapa daerah di antaranya Banten, Gorontalo, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat.
Baca juga: Pasien Covid-19, Lakukan Teknik Pernapasan Ini untuk Kembalikan Fungsi ParuSementara daerah dengan kasus TBC paling banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
"Sebenarnya TBC itu biasanya ada di daerah yang padat, daerah kumuh, dan daerah yang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) nya kurang, di situ potensi penularan TBC nya tinggi," ucap Didik.
Gejala TBC Didik menjelaskan gejala awal munculnya TBC pada seseorang dapat berupa batuk karena menyerang saluran pernapasan dan juga organ pernapasan, batuk berdahak terus-menerus selama dua sampai tiga minggu atau lebih.
Batuk tersebut, kemudian disertai dengan sesak napas, nyeri pada dada, badan lemas dan rasa kurang enak badan, nafsu makan menurun, berat badan menurun, dan biasanya yang muncul adalah berkeringat pada waktu malam hari meskipun tidak melakukan kegiatan apapun.
Menyikapi hal tersebut Kemenkes berencana melakukan skrining besar di tahun ini untuk menemukan dan mengobati kasus TBC.
"Kami merencanakan skrining besar-besaran yang transformasional dengan memanfaatkan peralatan
X-Ray Artificial Intelligence untuk memberikan hasil diagnosis TBC yang lebih cepat dan lebih efisien, termasuk
bi-directional testing bagi penderita diabetes agar mereka mendapatkan pengobatan TBC sedini mungkin," kata Didik melansir dari Kemenkes, Kamis (24/3/2022).
Baca juga: Termasuk Penyakit Kronis, Waspadai Hipertensi Paru pada AnakDari estimasi 824 ribu pasien TBC di Indonesia Baru 49 persen yang ditemukan dan diobati sehingga terdapat sebanyak 500 ribuan orang yang belum diobati dan berisiko menjadi sumber penularan, tuturnya.
"Untuk itu upaya penemuan kasus sedini mungkin, pengobatan secara tuntas sampai sembuh merupakan salah satu upaya yang terpenting dalam memutuskan penularan TBC di masyarakat," katanya.
Pihak Kemenkes, lanjut Didik, akan menskrining TBC terhadap 500 ribu kasus yang belum ditemukan. Skrining dilakukan dengan peralatan
X-Ray Artificial Intelligence untuk memberikan hasil diagnosis TBC yang lebih cepat dan lebih efisien.
Didik berkata, saat ini tengah diupayakan melakukan pengadaan alat-alat yang dibutuhkan. Direncanakan skrining besar-besaran itu akan dilakukan tahun ini.
Baca juga: Kemenkes Kejar Target Turunkan Kasus TBC Hingga 65 per 100 Ribu Penduduk"Pelaksanaannya diutamakan tahun ini karena proses masih tetap berjalan. Dengan ditemukannya 500 ribu kasus ini nantinya akan mempercepat kita eliminasi TBC di tahun 2030," kata Didik.
(est)