Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Sejarah Kebangkitan Islam di Spanyol Jadi Inspirasi Kemajuan Barat

Muhajirin Jum'at, 25 Maret 2022 - 13:16 WIB
Sejarah Kebangkitan Islam di Spanyol Jadi Inspirasi Kemajuan Barat
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam membebaskan Andalus, Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal, Andorra, Gibraltar, dan sekitarnya), pada 711 M. Masa kepemimpinan umat Islam di Iberia dimulai ekspansi panglima besar Thariq bin Ziyad.

Thariq bin Ziyad dalam sejarah Spanyol dikenal sebagai legenda dengan sebutan Taric el Tuerto. Dia adalah komandan militer dari Dinasti Umayyah yang memimpin pembebasan atas wilayah Andalus.

Musim panas pada 711 M/92 H, Thariq bin Ziyad berangkat menuju Al-Andalus. Pada 29 April 711, pasukan Thariq mendarat di Gibraltar. Dia berhasil menguasai wilayah itu setelah mengalahkan kerajaan VIsigoth, karena rajanya, Roderick terbunuh pada 19 Juli 711 dalam pertempuran Guadalete.

“Sejarawan Islam menyebut apa yang dilakukan Thariq bin Ziyad sebagai pembebasan, walaupun sejarawan Barat atau Kristen menyebutnya sebagai pendudukan,” kata Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Spanyol, Muhammad Najib, dalam wawancara khusus bersama LANGIT7.ID, Kamis malam (24/3/2022).

Najib menjelaskan dua alasan sejarawan muslim menyebut Langkah Thariq bin Ziyad sebagai pembebasan. Penguasa Iberia kala itu, bangsa Visigoth, adalah keturunan Jerman yang pernah menjadi saingan Romawi. Mereka mengeksploitasi masyarakatnya. Kondisi itu membuat Langkah Thariq bin Ziyad mudah membebaskan Iberia dari Visigoth.

“Dinasti Visigoth mengeksploitasi masyarakatnya. Suku spanyol asli merasa ditindas, sehingga mereka menolong Thariq bin Ziyad. Meskipun pasukan Thariq bin Ziyad hanya sedikit, tapi dengan dukungan masyarakat, itu bisa mengalahkan Visigoth dengan cepat,” tutur Najib.

Baca juga: Mengenal Kota-kota Warisan Islam di Spanyol dan Portugal

Penulis Novel Di Beranda Istana Alhambra itu mengatakan, Thariq bin Ziyad lalu menjadi gubernur di wilayah Andalus Sebelum akhirnya dipanggil pulang ke Damaskus oleh Khalifah Walid I. Beberapa tahun kemudian, Bani Umayyah dikalahkan oleh Bani Abbasiyah yang memindahkan ibu kota peradaban Islam ke Baghdad.

Sejak saat itu, Iberia seperti kehilangan induk. Penguasa yang tadinya berkiblat ke Damaskus, pusat pemerintahan Bani Umayyah, menjadi penguasa lokal. Mereka sudah mulai bersaing dan mengatakan tidak loyal kepada Bani Abbasiyah.

Kedatangan Abdurrahman Ad-Dakhil ke Andalus

Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik atau lebih dikenal Abdurrahman ad-Dakhil merupakan peletak dasar pendirian Dinasti bani Umayyah di Andalus. Dia berkuasa selama 90 tahun.

Pada 750 M, ketika Dinasti Abbasiyah mengambil alih kekuasaan Dinasti Umayyah di Damaskus, Abdurrahman Ad-Dakhil merupakan satu-satunya keturunan Bani Umayyah yang tersisa. Dia berhasil melarikan diri dari kejaran tentara Bani Abbasiyah.

Ad-Dakhil lalu mengembara selama lima tahun melalui Palestina, Mesir, Afrika Utara, dan berakhir di Andalus. Dia memasuki Andalus hanya diikuti oleh 400 budak yang setiap pada bani Umayyah.

“Ketika ke Andalus, dia statusnya buronan Bani Abbasiyah. Abdurrahman selamat karena dalam keadaan sakit, sehingga tidak menghadiri undangan jamuan yang jadi ajang pembantaian,” kata Najib.

Saat memasuki Andalus, Ad-Dakhil berharap para penguasa lokal menghormati leluhurnya karena menjadi penguasa berkat Bani Umayyah. Namun yang terjadi justru berbeda. Kekuasaan membuat mereka tak lagi loyal kepada kepada pemerintahan Islam, apalagi menyerahkan kekuasaan kepada Ad-Dakhil.

Kondisi itu membuat Ad-Dakhil harus bersiasat melakukan langkah diplomasi dan militer. Dia bersembunyi dan mengirim delegasi menemui penguasa-penguasa lokal di Andalus secara terpisah.

“Kemudian membuat daftar, mana yang setia, setengah setia, dan mana tidak setia. Dia berkolaborasi dengan yang paling setia mengajak bergabung yang setengah setia, lalu memerangi yang tidak setia,” tambah Najib.

Takala barisan tentaranya dirasa sudah banyak, Ad-Dakhil mulai merangkak menaklukkan Cordoba. Dia berhasil menaklukkan kota itu dan menjadikannya sebagai Ibu kota Andalus. Dia mampu menguasai Andalus setelah mengalahkan Yusuf al-Fihri, gubernur Andalus saat itu.

Masa pemerintahan Ad-Dakhil dikenal dengan masa pembangunan besar-besaran. Dia membangun kota menjadi lebih Indah, membuat pipa air agar masyarakat memperoleh air bersih, lalu mendirikan tembok yang kuat di sekeliling kota Cordoba dan Istana.

“Selama bertahun-tahun, dia berhasil. Sejak saat itu, dia menetapkan Cordoba sebagai Ibu kota Andalusia. Berkat kepemimpinan Abdurrahman, umat Islam bersatu dan politik (menjadi) stabil,” kata Najib.

Baca juga: Bayt Al-Hikmah, Jejak Kemajuan Sains di Masa Keemasan Islam

Ad-Dakhil juga menjadikan Cordoba sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan yang paling menarik di wilayah Eropa, dan sebagai tandingan dari Baghdad yang berada di bagian Timur. Dia memilih visi besar yakni masa depan Islam yang modern, mengapresiasi sains dan teknologi, mengapresiasi seni.

“Dalam waktu bersamaan dia juga menetapkan langkah-langkah, sehingga Andalus yang dipimpinnya jadi negara paling modern di kawasan Eropa mengalahkan Austria dan Konstantinopel, yang waktu itu wilayah Eropa dengan peradaban maju,” ucap Najib.

Najib menjelaskan, kelebihan umat muslim di bawah Dinasti Umayyah di Andalus adalah semangat Islam yang egaliter. Masyarakat diberi kebebasan untuk mengkaji Al-Qur’an dan Hadits, sehingga lahir berbagai cabang ilmu seperti sains dan teknologi.

Langkah itu merupakan gebrakan baru. Sebab, kala itu masyarakat Barat tidak boleh membaca Bibel karena kitab suci hanya dimonopoli oleh penguasa dan pemuka agama. Itu menyebabkan masyarakat Barat hanya sedikit yang pintar.

“Pada saat yang sama penguasa gereja berkolaborasi memonopoli kebenaran, sehingga rakyat yang menjadi bodoh inilah yang menyebabkan Eropa pada zaman itu disebut zaman kegelapan,” ucap Najib.

Penguasa Andalus memberi kebebasan kepada masyarakat. Bukan hanya membaca Al-Qur’an, tapi juga mengkaji turunan Al-Qur’an yang berkembang menjadi berbagai ilmu seperti Sains, teknologi, ilmu hukum, hingga seni.

“Di sini juga awal mula prinsip meritokrasi jadi kunci kemajuan masyarakat modern, artinya ada kompetisi alamiah bagi seluruh rakyat, siapa yang pandai punya kreatifitas maka dia diberikan kesempatan untuk tampil dan memimpin. Bahkan, karena egaliternya Andalusia yang Islam juga kecipratan yang non-Islam, bahkan Yahudi dan Nasrani bisa menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan maupun perguruan tinggi waktu itu,” ucap Najib.

Kala itu, hanya ada 10 kota maju dan modern di seluruh dunia. 5 di antaranya ada di Andalus. Satu ada di Jepang, China, Isfahan di kawasan Asia Tengah, dan Samarkand (sekarang bagian dari Uzbekistan dan Baghdad).

“Waktu itu disebut modern artinya ada air di setiap sudut kota, ada taman yang terawat baik, terang kalau malam hari, begitu pula masyarakatnya makmur secara ekonomi, banyak tokoh politik, intelektual, maupun Pedagang datang ke toko itu. Ini memberi gambaran betapa hebatnya waktu itu,” kata Najib.

Helaan Nafas Terakhir Sang Sultan

Kejayaan Islam di Andalus berakhir pada masa Bo Abdil atau Abu Abdillah bin Muhammad. Dia turun tahta setelah dikalahkan oleh pasangan Isabella dan Ferdinand. Bo Abdil menjadi khalifah yang bertahta di wilayah Granada.

Peristiwa itu terjadi pada 2 Januari 1492. Pasukan Kristen merangsek memasuki Granada yang membuat Kesultanan Granada menyerah. Mereka menerobos Istana Al-Hamra, mencabut bendera kesultanan dan diganti dengan panji-panji kedua kerajaan.

Baca juga: Ketika Raja Inggris Mengirim Putrinya Belajar ke Universitas Islam di Cordoba

“Istananya yang sangat terkenal adalah Al-Hamrah. Al-Hamrah itu kata sifat dari ahmar (Merah), karena Benteng ini dan sebagian besar berwarna mereka. Tapi ada juga yang mengatakan, disebut Al-Hamrah karena pendirinya itu berasal dari Kabilah Ahmar,” kata Najib.

Bo Abdil lalu meneken perjanjian menyerah kepada Raja Ferdinand di sebuah gereja. Dia lantas pergi dari Istrana Al-Hamra menuju sebuah bukit yang cukup tinggi. Dari tempat itu, dia menatap Istana Al-Hamra sembari menangis.

Jalan itu kemudian dikenal dengan nama Puerto del Suspiro del More (Jalan helaan nafas terakhir sang Moor). Seluruh umat muslim di Spanyol kemudian hanya diberi dua pilihan, memeluk Kristen atau pergi dari wilayah itu.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)