LANGIT7.ID, Jakarta - Indonesia berpotensi menguasai
pasar halal global. Salah satunya karena terdapat tren peningkatan jumlah penduduk berstatus ekonomi kelas menengah.
Untuk itu, pemerintah terus mendorong dalam pengembangan industri halal di Tanah Air. Salah satunya dengan memberikan kemudahan bagi para UMKM untuk mendapatkan
sertifikasi halal.
Founder and CEO of Corporate Innovation Asia (CIAS), Indrawan Nugroho mengatakan, saat ini sedang terjadi tren peningkatan jumlah penduduk ekonomi kelas menengah di berbagai negeri, termasuk di Indonesia.
Baca Juga: Tiga Lembaga Ini Berperan Penting dalam Sertifikasi Halal"Diperkirakan pada 2024 mendatang setengah penduduk dunia ialah segmen kelas menengah. Bertambah sekitar 140 juta tiap tahunnya, dan nantinya sekitar 80 persen penduduk menengah akan bermukim di Asia," ungkap dia dikanal YouTubenya Dr. Indrawan Nugroho, dikutip Ahad (3/4/2022).
Dia menyebutkan, bertumbuhnya produk muslim global yang beriringan dengan meningkatnya jumlah kelas menengah, maka nilai pasar halal di masa mendatang akan sangat menggiurkan.
Selain itu, pengeluaran konsumen muslim untuk makanan dan minuman halal, farmasi dan kosmetik halal, serta pariwisata ramah muslim dan gaya hidup halal mencapai USD2,2 triliun pada 2019 lalu. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat tiap tahunnya.
"Proyeksi Compound Annual Growth Rate (CAGR), industri halal akan meningkat hingga mencapai 6,2 persen dalam kurun waktu 2018-2024. Artinya, tahun 2024 itu belanja konsumen industri halal akan mencapai USD3,2 triliun," jelasnya.
Dari data itu, lanjut dia, konsumsi produk halal Indonesia pada tahun 2019 mencapai nilai USD144 miliar. Sehingga menjadikan Indonesia sebagai konsumen terbesar di sektor ini.
Pada sektor pariwisata ramah muslim, Indonesia menduduki posisi ke-6 dunia dengan nilai USD11,2 milyar. Di sektor busana muslim Indonesia merupakan konsumen ke-3 dunia dengan total konsumsi USD16 miliar.
Sektor farmasi mendapat peringkat ke-6 dengan total pengeluaran USD5,45 miliar, dan kosmetik halal Indonesia di peringkat 2 dengan total pengeluaran USD4 miliar.
"Sayangnya, saat ini Indonesia lebih cenderung menjadi konsumen dari industri halal," katanya.
Data Global Islamic Economic Report 2019 menunjukkan, brazil tercatat sebagai eksportir terbesar produk makanan dan minuman halal yakni USD5,5 miliar.
Diikuti Australia yang mengekor dengan nilai USD2,4 milliar. Sementara Korea Selatan juga agresif menyasar pasar halal, termasuk Indonesia, di mana sejak 2010 ekspor halal Korea Selatan tumbuh hampir 70 persen.
(bal)