LANGIT7.ID, Jakarta - Al-Qur’an merupakan petunjuk dari Allah SWT untuk menjawab semua masalah kehidupan. Termasuk solusi menghadapi berbagai cobaan akibat pandemi Covid-19. Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, DR. Dr.Fidiansjah Sp.KJ.MPH dalam webinar yang digelar Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) bertemakan ‘Wahai Ummat, jangan Bersedih’ yang disiarkan melalui akun Youtube AQL Islamic Center, Kamis malam (29/7/2021).
Dia menyebut kesedihan merupakan sifat alamiah manusia, namun kesedihan harus diletakkan secara proporsional. Rasulullah SAW pernah mengalami
amul huzni (tahun kesedihan) saat dua kekasih beliau paman dan istri tersayang berpulang ke Rahmatullah. Namun beliau menyikapi kesedihan itu secara proporsional.
“Maka itu, untuk menyikapi kesedihan ini dengan baik kita merujuk pada Al-Qur’an. Kita dihadapkan pada situasi penuh stres, tapi stres itu keniscayaan dalam kehidupan. Solusinya ada dalam surah Al-Baqarah ayat 155-157. Ayat itu bercerita tentang stres dan bagaimana menyikapinya,” kata Dokter Fidiansjah.
Allah SWT berfirman: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata
‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Dokter Fidiansjah menjelaskan, rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, sampai pada kekurangan makanan merupakan dinamika kehidupan. Melalui dinamika itu, Allah SWT menyampaikan berita gembira kepada orang-orang yang bersabar.
“Orang sabar, yang salah satu karakternya adalah ketika musibah menimpa, mereka mengatakan
‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un’. Ini pernyataan istirja yang menggambarkan segala sesuatu itu milik Allah,” ucap beliau.
Ayat itu juga menunjukkan bahwa penyebab jiwa seseorang sakit karena terlalu cinta kepada dunia. Seseorang terlalu cinta kepada harta, jabatan dan keluarga. Kecintaan itu melebihi cinta kepada Allah. Sehingga, jika Allah mencabut nikmat tersebut, jiwa seseorang akan goyang dan goncah yang memicu depresi.
“Jadi, konsep sakit jiwa, atau masalah kecemasan dan kesedihan itu berasal dari tingginya nilai kecintaan kepada makhluk,” tegas Dokter Fidiansjah.
Maka obat terbaik menghadapi situasi saat ini adalah menumbuhkan cinta kepada Allah SWT. Keyakinan bahwa semua milikNya harus ditanamkan dalam jiwa agar penyakit cinta dunia itu runtuh.
“Maka pandemi itu sesuatu hal yang harus dikelola secara proporsional untuk bisa terhindar dari rasa sedih, ketakutan, atau pun kecemasan. Semua itu harus dikelolah ketika berhadapan dengan situasi yang penuh dengan ketidakpastian saat ini,” pungkas Dokter Fidiansjah.
(jqf)