LANGIT7.ID, Jakarta - Indonesia beruntung memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika. sebuah pengakuan bahwa masyarakat kita berbhinneka secara etnis, budaya dan agama, semua dipersatukan oleh kebhinekaan.
Hal itu dikatakan Guru Besar Universitas Paramadina Prof Abdul Hadi WM diskusi publik bertajuk "Intoleransi, Musuh Bangsa, Musuh Bersama, Membangun Kesalehan Sosial." Kegiatan ini berlangsung secara virtual, kemarin (18/4/2022).
"Sebagian besar bangsa kita punya ras Autronasia. berbeda dengan masyarakat di Amerika atau malaysia. Indonesia punya rumpun yang sama meski terdiri dari berbagai etnis, kemerdekaan Indonesia juga diikat tali persatuan, diikat juga oleh Bahasa Nasional yang sama, yang berhasil mempersatukan masyarakat," kata dia.
Baca Juga: KH Maruf Amin: Nilai Al-Quran Jadi Benteng Pertahanan DiriIndonesia juga diikat oleh persamaan nasib, agama, dan sejarah. Pernah dijajah Belanda 100 tahunan, berbeda dengan Malaysia. Menurut dia, Malaysia tidak merasa bersatu, maka ada politik multikultural.
"Agama di Indonesia juga menjadi alat mempersatukan dan bukan alat pemecah belah, pesan-pesan dalam Al Quran juga mempersatukan. Kenapa saat ini seolah persatuan rapuh, salah satunya karena Bahasa Indonesia pun dirusak, padahal bangsa Jepang berhasil menjaga kekukuhan Bahasa Jepang sehingga tidak mudah dipecah belah," ujarnya.
Prof Hadi menjelaskan, masalah lain juga muncul akibat dikotomi politik yang diciptakan elit sehingga bangsa ini hidup dalam desain politik salah. Islam dan nasionalisme terus saja dipertentangkan. Seolah jika Islam maka tidak nasionalis dan seorang nasionalis bukan Islam.
Baca Juga: Kenalan dengan Ustadz Wildan Hasan, Berdakwah Memanfaatkan Medsos"Pada era Nasakom, yang memaksa bangsa melulu berbicara dalam Bahasa politik, padahal pandangan agama juga faktor yang amat kaya mempersatukan etnis-etnis yang ada. Politik dikotomi juga terus merambah ke bidang etnis Jawa dan non Jawa, juga militer dan sipil," kata dia.
Ia menilai bahwa gagasan Nurcholish Madjid tentang Keislaman, KeIndonesiaan dan Kebangsaan, tidak berhasil karena diprovokasi terus. Islam dianggap tidak nasionalis. Padahal Indonesia mempunyai ciri KeIslaman kental.
"Pluralisme Nurcholish bukan dalam pengertian liberalis atau multikulturalis. Tetapi ajaran dalam Al-Qur'an telah menerangkan tentang makna lakum diinukum waliyadiin sebagai ajaran toleransi tertinggi," klaim dia.
Baca Juga: Universitas Paramadina Selenggarakan Kelas Hubungan Internasional(zhd)