LANGIT7.ID, Jakarta - Universitas Paramadina lewat Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) terlibat Kolaborasi Lintas Negara untuk pengelolaan Kawasan Samudera Hindia: Harmonisasi Kebijakan Negara dan Kolaborasi "People to People". Ini merupakan peran akademis yang penting.
Masalah kepentingan nasional adalah isu penting masing-masing negara dan mesti dipertemukan bersama. Sehingga dapat tercipta kedamaian dan keadilan dari tingkat regional sampai global.
Pada saat ini ada perubahan mendasar dan pergeseran orientasi dan peningkatan kepentingan nasional negara-negara terhadap akses, kontrol, dan penguasaan wilayah laut semakin dinamis, kompleks, kompetitif, dan bahkan cenderung konfliktual. Karena itu, gesekan-gesekan tidak bisa dihindari.
Perubahan menggunakan terminologi Asia Pasifik menjadi Indo Pasifik dalam kebijakan dan diskursus publik menjadi salah satu indikator. Indonesia, tentu, sangat berkepentingan untuk berperan dan berkontribusi aktif dalam upaya perumusan tata kelola dan rejim internasional di wilayah laut.
“Sebagai bagian dari pembangunan dan penguatan jati diri sebagai negara maritim Indonesia termasuk di kawasan Samudera Hindia,” kata Direktur PGSD, Shiskha Prabawaningtyas, dikutip Jumat (4/2/2022).
Baca Juga: Prediksi 10 Jurusan Kuliah Paling Diminati di 2022Pada tahun 2017, Indonesia menginisiasi struktur "Summitry" atau Konferensi Tingkat Tinggi pada organisasi negara-negara di kawasan Samudera Hindia atau Indian Ocean Rim Association(IORA).
Pergeseran geopolitik dunia khususnya pasca penghentian mobilitas dan aktifitas ekonomi dunia akibat Pandemi Covid-19 semakin mendorong urgensitas bagi upaya harmonisasi kebijakan negara di kawasan Samudera Hindia.
Sejak 5 Januari 2022, Dubes Salman Al Farisi, Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan merangkap Republik Botswana, Kerajaan Eswatini, dan Kerajaan Lesotho bertindak sebagai Sekretaris Jenderal IORA setelah menerima mandat kepercayaan dari para negara anggora IORA pada pertemuan ke-21 Dewan Menteri (Council of Ministers) IORA pada 17 November 2021.
Paramadina Graduate School of Diplomacy berkolaborasi dengan enam universitas dari negara anggota IORA kembali menyelenggarakan kelas internasional "Hubungan Internasional di Kawasan Samudera Hindia" secara online pada tanggal 31 Januari-16 Februari 2022.
Adapun enam universitas partner yang bergabung adalah University of Western Australia; University of Pretoria, Afrika Selatan; Jawaharlal Nehru University, India; University of Mauritius, Mauritius; University of Dhaka, Bangladesh; dan Emirates Diplomatic Academy, Uni Emirates Arab.
Baca Juga: Simkatmawa 2021 UMY Masuk Peringkat 1 PTS di Indonesia"Kelas internasional ini diikuti oleh 31 mahasiswa pascasarjana (Master) yang berasal dari enam universitas partner dan mendapat dukungan penuh dari Sekretariat IORA," kata Shiskha yang merupakan salah satu Convenors dan Koordinator Program dari Indonesia.
Kelas internasional ini dilakukan dengan mengadopsi lima Zona Waktu, yaitu Waktu Pretoria, Abu Dhabi, New Dehli, Dhaka, Jakarta, dan Perth, Kelas dimulai pukul sembilan pagi waktu Pretoria atau tiga sore waktu Jakarta dan berakhir pukul 12 siang waktu Pretoria atau lima sore waktu Jakarta. Bahkan ada mahasiswa yang tetap ikut kelas dalam kondisi isolasi mandiri akibat terinfeksi Covid-19.
Pada hari pertama kelas, Senin, 31 Januari 2022, kelas disusun dalam format "High Level Panel" dengan narasumber Dubes Salman Al Farisi (Sekjen IORA - Indonesia), Dubes Dr. Anil Sooklal (Deputy Director-General, Asia and the Middle East, Department of Internationals and Cooperation - South Africa), dan Rear Admiral (ret.) Md. Kurshed Alam (IORA Chair of the Committee of Deniot Official, Bangladesh).
Para mahasiswa mendapat kesempatan mendengarkan dan berdiskusi langsung tentang kondisi kekinian di Kawasan Samudra Hindia termasuk tantangan dan potensi dalam upaya negara-negara anggota IORA dalam mengharmonisasi kebijakan nasionalnya dalam pengelolaan Kawasan Samudera Hindia.
“Isu perubahan iklim, penanganan pandemi Covid-19, dan revolusi digital menjadi penting dan prioritas selain arah pembangunan ekonomi dan "political will" para negara anggota dan partner dialog,” jelas Shiskha.
Baca Juga: Momentum Hakordia, Kapolri Lantik 44 Eks Pegawai KPK Jadi ASNHari kedua, Selasa 1 Februari 2022, para mahasiswa fokus mendengarkan paparan para narasumber dan berdiskusi tentang dinamika aspek sosial budaya dan lingkungan di Kawasan Samudera Hindia ini.
Dalam sesi dinamika sosial budaya, Dr. Nivedita Ray (Indian Council on World Aiffair, India); Prof. Samina Yasmeen (UWA Centre for Muslim States and Society, Australia) memaparkan tentang praktik dan pengaruh diaspora, migrasi, perbudakan bagi akulturasi budaya, kebijakan negara, serta tatanan sistem politik, ekonomi, dan sosial budaya di kawasan ini.
Pada sesi dinamika lingkungan, Dr. Gatot Gunawan (Director Blue Economy and Fisheries Management, IORA); Prof. Erika Techera (Law School, UWA), dan Dr. Alexander Davis (UWA) memaparkan tentang persoalan dalam isu lingkungan termasuk tantangan rezim hukum internasional dan upaya IORA dalam mengharmonisasikan kebijakan negara yang berbeda-beda.
Di hari ketiga, Rabu, 2 Februari 2022, Sanusha Naidu (Institute for Global Development, South Africa) memaparkan secara konstruktif dan kritis tentang persoalan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di kawasan termasuk persepsi agresifitas tentang ekspansi ekonomi China dan penguatan perdagangan intra-kawasan versus inter-kawasan.
Dalam dua minggu ke-depan mahasiswa akan kembali mendengarkan dan berdiskusi dengan para narasumber ahli dengan topik dan isu berbeda. Pelaksanaan Kelas internasional diselenggarakan dalam format 3tiga hari sepanjang durasi tiga minggu dengan mempertimbangkan kondisi mahasiswa dan beban pembelajaran.
Baca Juga: Dubes Al Busyra Basnur Kenalkan Sejarah Afrika ke Mahasiswa UMYSelain memberikan kesempatan berinterkasi antar mahasiswa di luar ruang kelas formal online melalui platform digital sebagai bentuk kenormalan baru paska pandemi dan kebutuhan dasar interaksi sosial. Di akhir kelas, mahasiswa yang dibagi dalam lima kelompok.
Mereka akan mempresentasikan hasil diskusi dan kerja kelompok tentang salah satu isu atau aspek tentang Hubungan Internasional di Kawasan Samudera Hindia sebagai salah bentuk nyata sebuah kegiatan kolaborasi, selain membangun jaringan baru antar mahasiswa dan memproduksi pengetahuan bersama.
"Ini merupakan salah satu bentuk nyata dari kolaborasi
people to people," ujar Shiskha.
Baca Juga: Antovany Reza Pahlevi, Santri Go Internasional Berkarir di Start Up Kelas Dunia(zhd)