LANGIT7.ID, Jakarta - I’tikaf merupakan salah satu ibadah dan cara untuk bertaqarub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala. Anjuran i’tikaf termaktub dalam Al-Qur’an seperti dalam Surah Al-Baqarah ayat 125 dan ayat 187.
Anjuran beri’tikaf juga disebutkan dalam berbagai hadits. Hadits paling populer adalah hadits dari Aisyah RA, “Adalah Nabi SAW melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Ta’ala, lalu hal tersebut dilanjutkan oleh istirnya setelah wafatnya.” (HR Bukhari-Muslim).
Dalil-daili tersebut menunjukkan i’tikaf merupakan satu ibadah yang sangat dianjurkan. Maka itu, perlu perisapan khusus menjelang 10 terakhir Ramadhan. Ustadz Adi Hidayat (UAH) menyebut 3 persiapan yang mesti dilakukan untuk i’tikaf:
1. Persiapan Fisik dan MentalPersiapan fisik dan mental sangat penting, terlebih pada masa Pandemi corona saat ini. Kondisi fisik harus dalam kedaan prima. Fisik sehat harus diikuti mental sehat, agar bisa lebih khusyuk dalam menjalani ibadah kepada Allah.
“Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh pada 10 hari terakhir Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR Muslim 1175).
Baca juga: Tuntunan I'tikaf untuk Muslimah, Boleh Tak Harus 24 JamDikatakan oleh istri tercinta Rasulullah SAW, Aisyah RA, “Apabila nabi SAW memasuki 10 hari terakhir Ramadhan (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari-Muslim)
Rasulullah juga sangat memperhatikan penampilan saat hendak beribadah. Beliau memakai parfum dan pakaian terbaik. Itu dilakukan untuk menyambut undangan Allah Ta’ala.
“Asiyah juga menyisir rambut nabi kalau mau shalat. Ini ada undangan spesial dari Allah, jadi penampilan secara fisik harus prima, bagus, Bekal disiapkan, mental juga diperbaiki,” kata UAH di
Akhyar TV, dikutip Rabu (20/4/2022).
2. Tempat SpesifikTempat spesifik untuk i’tikaf adalah masjid. Masjid merupakan tempat paling kondusif untuk beribadah. Masjid bisa membantu setiap muslim fokus mempersiapkan diri meraih kemuliaan 10 terakhir Ramadhan.
Di sisi lain, dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 dijelaskan, i’tikaf dilaksanakan di masjid. Kalangan ulama berbeda pendapat tentang masjid yang dapat digunakan, apakah masjid jami’ atau masjid lain.
Sebagian berpendapat, masjid yang dapat dipakai I’tikaf adalah masjid yang mempunyai imam dan muadzin khusus. Ini berdasarkan pendapat al-Hanafiyah (ulama Hanafi).
Sedang pendapat lain mengatakan, i’tikaf hanya dapat dilaksanakan di masjid yang biasa dipakai untuk melaksanakan shalat jamaah. Pendapat ini dipegang al-Hanabilah (ulama Hambali).
Baca juga: Syarat dan Amalan saat I'tikaf di 10 Hari Terakhir Ramadhan“Anda bisa mencari masjid terbaik dan dekat dari kediaman Anda. Cari tempat Istimewa di dalam masjid untuk beribadah,” kata UAH.
3. Menyiapkan Agenda I’tikafHal tak kalah penting adalah menyiapkan menu amal dalam 10 hari. Jika datang ke masjid tanpa persiapan, Anda cenderung hanya menjadi penyimak saja. Amalan tidak fokus karena tidak ada target spesifik, seperti khatam Al-Qur’an atau fokus beristighfar.
Contoh target i’tikaf adalah terkait Al-Qur’an. Ada tiga menu terkait Al-Qur’an yakni qiraah, tilawah, dan hafalan. Anda bisa khatam berulang kali dengan qiraah. Atau pun membaca sambil tadabbur. Anda juga bisa menambah atau murajaah hafalan.
“Dari menu tersebut, Anda tinggal mencari perangkat pendukung. Misal target khatam Al-Qur’an, maka persiapkan mushaf. (Mau) yilawah, maka siapkan tafsir. Mau memaksimalkan shalat, maka cari buku-buku tentang shalat sambil praktikkan pada malam hari,” tutur UAH.
(jqf)