LANGIT7.ID - , Jakarta - Banyak penelitian yang memuji manfaat kesehatan dari
puasa. Bahwa saat menahan diri dari lapar dan haus, tubuh akan menyembuhkan dirinya sendiri atau
mendetoksifikasi.
Penelitian pun menguraikan banyak manfaat kesehatan yang baik dengan berpuasa. Di samping manfaat meningkatkan spiritualitas dan
emosional.
Namun, untuk mendapatkan manfaat penuh dari
puasa selama Ramadhan, yang terbaik adalah mengikuti sunnah dan tidak tidur sepanjang hari atau makan berlebihan.
Baca juga: Ketahui 3 Cara Detoksifikasi sesuai Alquran dan Anjuran RasulullahUntuk lebih memahami hal ini, pahami terlebih dulu detoksifikasi dan apa yang terjadi pada tingkat fisik.
Apa itu detoksifikasi? Detoksifikasi paling sering dianggap sebagai cara tubuh membersihkan kotoran.
Tubuh kita menggunakan berbagai sistem untuk membawa zat berbahaya. Seperti kelenjar keringat kulit, kelenjar getah bening, air mata, hidung, saluran pencernaan, tenggorokan, paru-paru, ginjal, kantong empedu dan hati.
Spesialis nutrisi holistik, Anisa Abeytia, mengatakan disfungsi dalam satu sistem dapat menyebabkan overburden dan kegagalan sistem lain. Semua sistem tubuh harus berfungsi sebagai satu tim untuk membuang limbah dari tubuh.
"Makan secara berlebihan dapat mengurangi kemampuan tubuh menyerap manfaat dari puasa. Sebab akan menghalangi tujuan mengurangi asupan makanan dan memungkinkan tubuh membuang limbah lebih efektif," kata Anisa seperti ditulis di About Islam.
Ia melanjutkan, banyak penyakit kronis yang dikaitkan dengan beban racun yang ditanggung tubuh dan ketidakmampuannya untuk membuang limbah secara efisien.
Racun yang tidak dibuang oleh sistem lain kemudian dilewatkan ke hati di mana mereka diubah melalui dua jalur khusus untuk diekskresikan. Kedua jalur tersebut harus berfungsi dengan baik.
Sebab, jika tidak limbah tetap berada di dalam tubuh, terperangkap di sel, jaringan, dan organ tubuh.
Baca juga: Ini 3 Golongan yang Dibolehkan Tidak Berpuasa Ramadhan"Ramadhan adalah kesempatan besar untuk pembaruan spiritual. Kita punya waktu, jika kita berhasil, untuk memperluas ibadah kita. Namun yang lebih penting, dengan berpuasa, kita selalu berada dalam kondisi zikir," jelas Anisa.
Namun beberapa orang memilih untuk tidur di siang hari dan tetap terjaga sepanjang malam. Sehingga melewatkan momen meningkatkan spiritualitas di bulan Ramadhan ini.
"Doa, dzikir atau membaca doa-doa pendek dan meditasi juga bermanfaat bagi tubuh yang berpuasa. Ini mendorong relaksasi dan mengurangi produksi hormon stres yang perlu dikeluarkan oleh tubuh," lanjut Anisa yang menempuh studi pengobatan herbal di Amerika Serikat.
Banyak orang, lanjut Anisa, menghilangkan zat adiktif dari makanan mereka selama Ramadhan, yang berpengaruh pada hubungan yang lebih dalam dengan keyakinan Islam.
Puasa Ramadhan - Nutrisi Jiwa"Beberapa orang mungkin berpikir bahwa emosi tidak berpengaruh pada tubuh. Seolah-olah emosi itu entah bagaimana berada di luar kita," katanya.
Namun, reaksi emosional terhadap rangsangan luar sebenarnya merupakan rangkaian biokimia rumit yang harus dihadapi tubuh setiap hari.
"Hormon yang disekresikan oleh kelenjar kita sebagai reaksi terhadap respons emosional berakhir sebagai limbah metabolisme. Semakin stres kita, semakin banyak tubuh yang harus dibersihkan," jelas Anisa yang tersertifikasi Islamic Healing ini.
Dr Dietrich Klinghardt mencatat bahwa trauma emosional bersarang di jaringan dapat menyebabkan disfungsi. Jika emosi beracun ini tidak ditangani secara konstruktif, proses detoksifikasi/penyembuhan tidak akan terjadi atau menjadi tidak efektif
Baca juga: Waktu Tidur Siang saat Puasa Ramadhan supaya Bernilai Ibadah"Ini memainkan langsung ke jalur detoksifikasi hati. Saat kita memungkinkan tubuh kita untuk membuang sisa metabolisme yang berlebihan melalui puasa, kita juga membantu detoksifikasi emosional kita," bebernya.
Ramadhan adalah waktu untuk pembaharuan dan regenerasi jika kita mengikuti sunnah. Ketika kita melakukannya, tak hanya bermanfaat secara fisik saja, tetapi ada manfaat tambahan bagi kesejahteraan spiritual dan emosional.
(est)