LANGIT7.ID, Jakarta - Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, KH Hasan Abdullah Sahal, mengingatkan para penuntut ilmu agar tidak merasa minder dan super. Dua sifat itu bertolak belakang, tapi sama-sama tidak baik jika dimiliki penuntut ilmu.
KH Hasan menjelaskan, saat ini nilai-nilai tholabul ilmi (menuntut ilmu) sudah banyak yang tergerus, kian hari makin menurun. Banyak orang menuntut ilmu hanya karena ingin dekat dengan ulama ataupun akademisi.
“Jangan lupa nasihat para ulama, barangsiapa yang menuntut ilmu hanya untuk bersanding dengan para ulama, orang pintar, akademisi, untuk berdebat, maka tidak akan mendapatkan bau surga,” kata KH Hasan di
Gontor TV, dikutip Jumat (22/4/2022).
Baca juga: Pimpinan Gontor: Ramadhan Penghormatan untuk Orang BerimanNiat menuntut ilmu harus ikhlas karena Allah Ta’ala. Dia menjelaskan, barangsiapa yang menuntut ilmu karena Allah, maka orang itu akan disegani oleh semua orang. Hal berbeda terjadi jika menuntut ilmu bukan karena Allah.
“Kalau mencari ilmu bukan karena Allah, dia akan takut dengan apa saja,” kata KH Hasan.
Menuntut ilmu bukan sekadar duduk manis di dalam kelas. Ada nilai yang lebih tinggi dari itu. Fase kelas hanya masih dalam tahap pengetahuan. Suatu saat kelak, penuntut ilmu akan menghadapi kenyataan.
Saat berhadapan dengan kenyataan, pada saat itulah pengetahuan yang didapat di dalam kelas diuji. Tidak sekadar membaca kenyataan, mereka harus mencari solusi. Jika solusi sudah didapat, mereka harus segera bertindak.
“Masalah, analisis, solusi,
action. Itulah hakikat menuntut ilmu. Bukan hanya teori-teori. Teori saja tidak selesai,” kata KH Hasan.
Maka itu, kata dia, siapa saja bisa berkembang menjadi ilmuwan. Namun, menuntut ilmu harus memiliki niat karena Allah. Penuntut ilmu tidak boleh tertipu sehingga menjadi minder dan super.
“Jangan sampai tertipu, minder atau super. Jangan merasa rendah diri. Merasa tinggi diri juga jangan. Tahu dirilah apa yang bisa kamu kerjakan, harus kau kerjakan,” tutur KH Hasan.
Seorang penuntut ilmu harus memiliki hati dan jiwa yang baik. Dua modal itu akan menjadi pondasi penting dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh warna-warni.
Baca juga: Ilmu, Iman, dan Amal dalam Islam tidak Bisa Dipisahkan“Jangan sampai tertipu dengan kesarjanaan, keilmiahanmu, keduniahanmu. Jangan sampai kamu menjadi orang terpeleset, karena sudah masuk dalam golongan orang yang tidak tahu tapi merasa tahu,” jelas KH Hasan.
Menurut KH Hasan, penuntut ilmu memiliki tingkatan. Derajat paling tinggi adalah mereka yang bisa membersihkan hati dari rasa minder dan super.
“Derajat penuntut ilmu paling tinggi adalah, kalau dia mengatakan, aku tidak tahu apa-apa. Derajat paling rendah adalah aku sudah bisa apa-apa. Berarti yang tengah adalah yang mengatakan, ‘ternyata orang pintar sepertiku banyak sekali,” ucap KH Hasan.
(jqf)