LANGIT7.ID, Jakarta - Juri Hafidz Indonesia 2020 & 2021, Syaikh Ahmad Al-Misry, menjelaskan, ada 5 tingkatan interaksi dengan Al-Qur’an untuk menciptakan generasi Qur’ani.
Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, tapi pedoman hidup manusia agar bisa selamat di dunia dan akhirat. Al-Qur’an yang akan membimbing manusia membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Syaikh Al-Misry mengumpamakan Al-Qur’an seperti ruh dalam jasad. Umat Islam tanpa Al-Qur’an, maka sama saja jasad tanpa ruh. Tidak ada kehidupan di dalamnya, tidak ada keberkahan jika tidak mendekap Al-Qur’an.
“Jangan cerita sudah baca Al-Qur’an sampai surah apa, hafal sampai surah apa, tapi Al-Qur’an sudah sampai diri Anda sampai mana? Apakah Al-Qur’an mengubah akhlakmu menjadi lebih bagus? Apakah mengubah perilakumu paling Indah di mata Allah?” Kata Syekh Al-Misry saat menyampaikan tausiyah di Masjid Kampus UGM, dikutip Sabtu (23/4/2022).
Allah telah menjamin orisinalitas Al-Qur’an. Namun tidak ada satu orang yang mampu mengubah isi Al-Qur’an. Itu jaminan langsung dari Allah. Namun mukjizatnya, isi Al-Qur’an bisa mengubah hidup seseorang. Al-Qur’an akan memperindah akhlak seseorang jika dijadikan sebagai pedoman hidup.
Baca juga: Bertadabbur Quran Ala Siswa AQLIS, Manfaatkan Medsos untuk BerdakwahMaka itu, Al-Qur’an harus menjadi priotas dalam kehidupan sehari. Al-Qur’an tidak boleh ditempatkan di urutan kedua, apalagi ketiga. Al-Qur’an harus menjadijadi nomor satu dalam kehidupan seseorang.
“Jangan sampai bisa berjam-jam baca WA tapi lupa baca Qur’an. Kita bisa berbincang-bincang berjam-jam sama teman, tapi malas sama firman Tuhan,” ucap Syaikh Al-Misry.
Era digital saat ini pun kian memudahkan kita. Al-Qur’an sudah tersedia dalam bentuk aplikasi. Maka sangat disayangkan jika berlalu satu hari tapi tanpa bacaan Al-Qur’an.
“Coba setiap hari baca satu ayat. Quran jangan dibaca dalam shalat saja. Ketika punya permasalahan hidup di dunia, maka dekati Al-Qur’an. Dekati surah Al-Fatihah, dekati Ayat Kursi. Rutinkan baca tiga ayat terakhir surah Al-Baqarah, Surah Al-Kahfi, baca Surah Al-Waqiah,” ucap Syekh Al-Misry.
Tugas Umat Islam terkait Al-Qur’anSyekh Al-Misry menjelaskan, umat Islam mempunyai tugas mencetak generasi Qur’an. Dari tugas tersebut, ada 5 tingkatan yang perlu dipenuhi terlebih dahulu agar bisa mencetak generasi Qur’ani.
1. Membaca Al-Qur’an
Wahyu pertama turun adalah perintah untuk membaca. Ini merupakan tingkatan pertama interaksi dengan Al-Qur’an. Ada banyak keistimewaan jika rutin membaca Al-Qur’an.
Dari Abdullah bin Amr RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Shaum (puasa) dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi hamba (yang mengerjakannya). Shaum akan memohon, ‘Ya Allah aku akan menghalanginya dari makan dan minum pada siang hari, maka terimalah syafaatku ini untuknya.’
Al-Qur’an berkata, ‘Ya Allah, aku telah menghalangi dari tidur pada malam hari, maka terimalah syafaatku ini untuknya’. Akhirnya kedua syafaat itu diterima.” (HR Ahmad, Ibnu Abi Dunya, dan Thabrani)
“Siapapun yang dekat dengan Al-Qur’an pasti akan menjadi mulia. Jibril turun membawa Al-Qur’an dan ia menjadi malaikat paling mulia, diturunkan kepada Nabi Muhammad jadi nabi paling mulia, umat Nabi Muhamamd jadi paling mulia, bulan Ramadhan paling mulia, lailatul qadr juga jadi paling mulia,” kata Syekh Al-Misry.
2. Mentadabburi Al-Qur’an
Tadabbur atau tilawah merupakan tingkatan kedua. Tidak sekadar membaca, kita harus memahami isi kandungan setiap ayat. Ini sunnah para sahabat. mereka tidak beranjak dari satu ayat jika belum memahami ayat tersebut.
Allah Ta’ala berfirman, “Maka tidaklah mereka mendatabburi Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS Surah An-Nisa: 82)
“Pernah gak kita berfikir untuk mentadabburi Tafsir surah Al-Fatihah atau Surah Al-Ikhlas. Al-Qur’an tidak sekadar dibaca, tapi difahami dan ditadabburi,” kata Syekh Al-Misry.
Baca juga: 6 Hal Penting yang Harus Diperhatikan Penghafal Al-Quran3. Menghafal Al-Qur’an
Orang yang rajin membaca lalu bertadabbur pasti dipermudah menghafal Al-Qur’an. Setiap umat Islam sudah pasti sering membaca Surah Al-Fatihah, dan tahu maknanya. Tak heran jika surah ini dihafal semua umat Islam.
“Orang yang rajin baca Al-Qur’an, memahami Al-Qur’an, otomatis akan hafal. Misal Surah Al-Fatihah, itu karena surah paling banyak dibaca, dan difahami. Kita tidak lupa Al-Fatihah, karena kita baca berulang kali. Itu sama surah lain, kalau sering dibaca, gampang hafal,” kata Syaikh Al-Misry.
4. Mengamalkan Isi Kandungan Al-Qur’an
Membaca akan memperbanyak pahala, mentadabburi menambah wawasan, dan penghafal Al-Qur’an akan jadi keluarga Allah di muka bumi. Itu di antara kelebihan interaksi dengan Al-Qur’an.
Namun setelah itu, tugas yang harus dikerjakan adalah mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan tak sekadar untuk dibaca saja, tapi untuk diamalkan dalam keseharian.
“Jangan cuma punya ilmu tapi tidak diamalkan. Ke manapun pergi, selalu ingat kepada Al-Qur'an. Maka tugas kita, membentuk karakter Qur’ani kalau rajin membaca lalu memahami, menghafal, lalu mengamalkan,” kata Syekh Al-Misry.
5. Berdakwah dengan Akhlak Al-Qur’an
Orang yang berada pada tingkat kebanyak para ulama sudah berada di tahap memahami Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya. Kebaikan telah diraihnya, tapi mereka masih ingin menuai kebaikan lebih banyak lagi, maka dakwah menjadi jalan terakhir.
Berdakwah dengan akhlak Al-Qur’an sangat penting. Itu menjadi ujung tombak pembentukan generasi Qur’ani di tengah masyarakat. Anak-anak akan mengenal Al-Qur’an melalui dakwah.
“Bumikan Al-Qur’an. Mudah-mudah kita lebih dekat dengan Al-Qur’an,” ucap Syekh Al-Misry.
(jqf)