LANGIT7.ID, Jakarta - Dai kondang Ustaz Adi Hidayat menjelaskan hakikat Idul Fitri. Hal pertama yang perlu diketahui adalah adanya kata takwa. Takwa yaitu saat seseorang meninggalkan kemaksiatan dan menjadi taat atau melaksanakan amal shalih.
Dalam Islam, ada juga kata muslim. Muslim berarti saat seseorang membaca dua kalimat syahadat sebagai bentuk kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah.
Jika seseorang telah membaca dua kalimat syahadat, maka dia sudah dikategorikan sebagai muslim. Tingkatan berikutnya adalah mukmin. Mukmin adalah seorang muslim yang mempunyai iman. Dari iman itu, seorang muslim mau melakukan amal shalih atau ketaataan.
Baca Juga: Sejarah Al-Qur’an, Allah Jamin Orisinalitas Bacaan dan TulisannyaSetelah seorang muslim beriman, maka dia akan naik ke tingkat takwa. Jika seorang muslim telah mencapai derajat takwa, maka hati akan selalu tentram. Itu karena saat berjalan ke manapun, kapan pun, dan di manapun, Allah senantiasa selalu terasa dekat.
Nah, pada Ramadhan ini, saat seorang muslim berhasil melaksanakan ibadah puasa, maka dia akan menggenggam muflihun. Muflihun artinya kemenangan, kesuksesa, dan kebahagiaan.
Pada saat Idul Fitri, itu artinya umat Islam telah sukses melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Pada saat itu, Hari Raya Idul Fitri dirayakan untuk memperbanyak kalimat takbir. Itu menjadi bukti seseorang telah meraih kenikmatan dan kemenangan.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, kata fitri berasal dari kata makan, yakni futur dengan sifat fitri. Jadi, arti dari kata Idul Fitri adalah kembali makan setelah selesai bulan Ramadhan.
Baca Juga: Mudik ke Ponorogo“Fitri itu seakan dengan kata fitrah bisa berarti futur, makanan yang pertama kali dimakan, bisa berarti fitrah dalam kaidah akhlak, sesuatu yang suci, bersih,” kata UAH di Adi Hidayat Official, dikutip Selasa (3/5/2022).
UAH menyampaikan, setiap bayi yang lahir dari rahim wanita manapun membawa fitrah. Makna fitrah dalam Al-Qur’an ada dua. Pertama, fitrah dengan makna kecenderungan setiap muslim untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS Ar-Rum: 30)
Sedangkan, arti makna fitrah yang kedua adalah menunjuk kepada segala sesuatu hal yang baik, suci, dan bersih.
“Karena itulah bahkan sebelum manusia dilahirkan dari perut ibundanya sendiri sudah disebut oleh Allah fitrah Islamnya sudah ada,” ucap Ustaz Adi Hidayat.
Baca Juga: Waspada Microsleep saat Berkendara, Ini Penyebab dan Pencegahannya(zhd)