LANGIT7.ID, Jakarta - Usai Ramadhan, masyarakat Indonesia biasanya akan menerima banyak undangan pernikahan. Seolah-olah fenomena ini merupakan sunnah, yaitu menikah pada bulan Syawal.
Menanggapi hal itu, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikir mengatakan, menikah pada saat Syawal adalah ibadah favorit yang sering dilakukan masyarakat Indonesia. Bahkan, lebih populer ketimbang puasa enam hari di bulan Syawal.
"Rasulullah SAW menikahi aku pada bulan Syawal dan menggauliku (pertama kali) pada bulan Syawal. Lalu manakah istri-istri beliau yang lebih beruntung dan dekat di hatinya dibanding aku?" (Muttafaq 'Alaih). (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca juga: Beri Nafkah, Siapa yang Harus Diutamakan Suami, Istri atau Ibu?"Imam Nawawi menyatakan, hadits ini menunjukkan disunnahkannya menikah di bulan Syawal. Termasuk malam pertama di bulan Syawal," kata dia dikanal YouTube SAP Channel, Selasa (3/5/2022).
Kendati demikian, Nuzul mengingatkan agar umat dapat bersikap bijak dalam menanggapi hadits ini. Dia berharap tidak ada umat yang menyalahgunakannya.
"Jadi jangan sampai baru dapat ilmunya, besok langsung memutuskan untuk nikah. Ini juga kurang bijak, maka kembalikan ke persiapan kita, karena pernikahan itu tidak mudah," ujarnya.
Menikah memerlukan persiapan yang matang sebelum dilakukan. Walaupun para ulama seperti Abdullah bin Abbas menganjurkan menikah muda, tapi beliau mengharuskan orang tua mendidik anaknya agar lebih memiliki kesiapan berumah tangga.
"Jadi jangan potong hanya menikah mudanya saja. Tapi kita perlu persiapkan konsep menikah pada anak, pahami kriteria pemimpin dalam Islam ketika menjadi suami, begitu juga dengan istri," katanya.
Dijelaskannya, persiapan lebih penting daripada asal menikahkan anak. Untuk itu, dia mengimbau agar pernikahan tidak dilangsungkan secara terburu-buru ataupun mendesak.
Baca juga: 7 Publik Figur Ini Mantap Menikah dengan Proses Taaruf"Tapi kalau memang sudah siap, Bismillah. Namun tetap hati-hati, karena dalam pembahasan ini tidak semudah yang dipikirkan oleh banyak orang," katanya.
Adapun hikmah Aisyah RA menekankan untuk menikah di bulan Syawal, yang juga disunnahkan ulama Syafi'iah, bukan hanya soal menikah, melainkan juga akidah.
Imam Nawawi menjelaskan bahwa Aisyah RA menekankan hal ini untuk membantah kebiasaan dan anggapan di masa jahiliah, terkait keyakinan menikah di bulan Syawal adalah sial.
"Kita tahu, menganggap sial sebuah tempat atau waktu, dan benda tanpa dalil syar'i itu sebuah kesyirikan besar. Jadi, jangan sekadar menekankan menikah di bulan Syawal, dan ini menunjukkan bahwa bulan Syawal di masa Aisyah adalah momentum untuk menekankan iman dan tauhid," tegasnya.
(sof)