LANGIT7.ID - Jelang Ramadhan dan Idul Fitri masyarakat Jawa punya tradisi
nyekar atau ziarah ke makam leluhur lalu menabur bunga di atasnya. Nyekar sendiri diambil dari kata sekar yang dalam bahasa Jawa berarti bunga.
Menurut Pakar Fikih Kontemporer sekaligus Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro,
nyekar muncul berkat akulturasi budaya Islam-Jawa-Hindu. Dalam kepercayaan tradisi ini, roh adalah abadi dan selalu 'pulang' menemui keluarga pada setiap bulan 'Ruwah' (dalam kalender Islam disebut Sya'ban). Ruwah berasal dari kata 'arwah' bentuk plural dari 'ruh' yang berarti roh.
Sehingga, menurut kepercayaan itu, bulan Ruwah merupakan momentum untuk saling bertegur-sapa antara ruh orang meninggal dengan orang yang masih hidup. Hindu juga memiliki sapaan khas dengan roh nenek moyang dengan beragam sesaji, salah satunya bunga. Tradisi itu lalu diadopsi sebagian umat Islam saat berziarah kubur.
KH Zahro memandang, tradisi nyekar dalam Islam dilarang alias tidak boleh. "
Nyekar itu tidak boleh," kata KH Ahmad Zahro melalui kanal YouTube-nya, dikutip Senin (9/5/2022).
Baca Juga: Simak, Begini Adab Ziarah Kubur Sesuai Syariat
"Bunga merupakan salah satu makanan kegemaran jin. Kuburan merupakan tempat paling banyak dihuni oleh jin. Maka, jika membawa bunga ke kuburan itu sama saja memberi makan ke jin," ucap KH Zahro.
Dia menjelaskan, tradisi nyekar berasal dari agama Hindu. Bagi umat Hindu tidak masalah jika bagian dari keyakinan mereka. Tapi umat Islam harus sadar diri dan menahan diri dari tradisi tersebut.
Islam punya ajaran sendiri. Ajaran yang memurnikan tauhid dan menghindari hal yang mengganggu akidah. Sementara, kata KH Zahro,
nyekar merupakan salah satu tradisi yang bisa mengganggu akidah seseorang.
"Pergi ke kuburan membawa bunga atau
nyekar itu berpotensi mengganggu akidah kita. Oleh karena itu, kita harus berdakwah kepada mereka yang punya kebiasaan begitu," tuturnya.
Di sisi lain,
nyekar tidak bisa di-qiyas-kan dengan hadits yang menyebut Rasulullah menancapkan pelepah kurma ke kuburan. Bunga tidak bisa disebut pelepah atau pun daun.
"
Nyekar tidak bisa diqiyaskan saat Rasulullah menancapkan pelepah kurma ke kurma. Bunga bukan daun. yang jelas bunga punya porsi tersendiri dalam perspektif spiritual yakni bunga makanan jin," tutur KH Zahro.
Maka jika umat Islam hendak berziarah kubur, cukup datang dan mendoakan ahli kubur tanpa menebar bunga di atas makamnya.
(jqf)