LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Prof Hilman Latief, menilai salah satu cara mempertahankan keberlangsungan sekolah di era kritis akibat pandemi Covid-19 adalah dengan membuat ekosistem filantropi. Dia mengatakan, konsep-konsep dalam Islam termasuk wakaf zakaf tidak bisa disepelekan.
Jika dulu, kata dia, membangun sekolah harus melalui perjuangan. Dibangun di atas tanah yang sempit dan melalui iuran. Maka ke depan, konsep harus diperkuat lagi, tidak hanya menjaga kuantitas saja, tapi hal penting adalah keberlanjutan sekolah.
Dia mencontohkan, jika sekolah mempunyai tanah 500 atau 100 meter, maka bisa ditopang dengan tanah wakaf. Misalnya 2 hektar tanah untuk menopang operasional sekolah, seperti alokasi peternakan, perkebunan, dan lain sebagainya.
“Karena wilayah hampir semua punya tanah wakaf dan tidak produktif. Jangan sampai perspektif tanah wakaf didirikan sekolah lagi, itu yang berat. Jadi mindsetnya di rubah, tanah wakaf bukan untuk mendirikan sekolah lagi melainkan menopang operasional sekolah,” ujar Hilman, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Senin (2/8/2021).
Menurut Hilman, zakat dan sedekah harus mulai dipola kembali. Bantuan-bantuan yang ada harus bersinergi dengan amal usaha. Dia mencontohkan sebuah rumah sakit yang mempunyai target sekian juta per bulan untuk iuran dana abadi. Dana abadi itu tidak boleh habis.
“Bisakah kita memikirkan lagi cara mentreatment uang bahwa ada kalanya uang itu harus dikelola sebagai sebuah dana abadi yang dimanfaatkan, untuk misalnya guru, kesejahteraan, keberlangsungan sekolah. Artinya muhammadiyah perlu orang yang memiliki entrepreneurship yang kuat, atau investasi dan macam macam,” terang Hilman.
Hilman menjelaskan, ekosistem filantropi pendidikan itu bisa dibangun. Perspektif harus diubah terlebih dahulu. Ada dana yang dipakai untuk biaya operasional dan ada dana abadi. Jika tidak dipisahkan, beberapa pun jumlah dana suatu lembaga pendidikan pasti akan habis untuk operasional. Maka perlu ada pengelolaan keuangan secara sistematis.
(jqf)