LANGIT7.ID, Jakarta -
Salafus shalih adalah para pendahulu yang saleh. Sebutan bagi ini dikhususkan bagi generasi awal Islam seperti para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in.
Zaman para salafus shalih itu dekat dengan
zaman Nabi Muhammad SAW. Mereka tentu memiliki pemahaman agama yang lebih baik dari pada generasi setelahnya.
Semisal para sahabat, mereka bergaul langsung dengan Rasulullah. Melihat langsung dan belajar dengan Nabi SAW mengenai Islam dan menyaksikkan turunnya ayat-ayat Al Quran.
Melansir laman
Muhammadiyah, mengikuti pemahaman salafus shalih sebenarnya masih diperselisihkan para ulama.
Sebagian menganggapnya sebagai hujjah syar’iyah (dalil agama). Karena itu, berbagai urusan bersifat syariah tidak bisa dikerjakan tanpa ada dalil dari Al-Quran, hadist dan ijma.
Baca Juga: Manba’ul Ulum Cirebon, Pesantren yang Padukan Metode Pendidikan Salaf dan ModernJika pemahaman atau pendapat para sahabat itu berbeda antara satu dengan yang lainnya, maka harus dipilih salah satu. Argumentasi mereka ialah, bahwa kemungkinan pendapat mereka itu benar sangat besar, dan kemungkinan pemahaman mereka itu salah sangat kecil.
Sementara sebagian ulama lain berpendapat bahwa pemahaman dan pendapat para sahabat itu bukan hujjah syar’iah, sehingga tidak wajib mengambilnya.
Argumentasinya ialah yang wajib diikuti dan diambil ialah al-Quran dan hadist. Sementara pendapat dan pemahaman sahabat bukan termasuk di dalamnya.
Pendapat akal itu mungkin benar mungkin salah. Dalam hal ini, tidak ada beda antara para sahabat dan selain mereka, meskipun kemungkinan salah dari mereka itu kecil sekali.
Kesimpulan mengikuti pendapat atau amalan para salafus shalih pada dasarnya tidak dilarang, sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan as-Sunnah.
(bal)