LANGIT7.ID, Jakarta - Pindang Tetel merupakan salah satu hidangan khas Pekalongan yang penampilannya sekilas mirip dengan rawon,
kuliner khas Surabaya. Meski dari sisi cita rasa berbeda, namun keduanya sama-sama menggunakan kluwak sebagai campuran bumbunya.
Pindang Tetel berasal dari Desa Ambokembang, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan yang menjadikan kuliner ini mudah ditemukan di berbagai titik di Pekalongan. Biasanyaa Pindang Tetel disajikan dengan kerupuk usek atau kerupuk pasir dengan warna putih atau merah jambu.
Meski namanya pindang, namun kuliner ini berbahan dasar daging sapi dan bukan terbuat dari bahan dasar pindang atau ikan.
Baca juga: Cicipi Kuliner Khas Betawi, Si Cantik Putu MayangPenamaan Pindang Tetel ini merupakan sebuah sinkatan dari paling enak daging tetel, seiring waktu berjalan dalam perkembangannya Pindang tetel ini tak hanya menyajikan tetelan saja tetapi daging dan juga jeroan.
Para pedagang di Pekalongan biasanya menjual Pindang Tetel dengan menu pendamping lainnya seperti kerupuk usek, kluban atau sejenis urab yang dicampurkan dengan Pindang Tetel sehingga sajian kuliner tersebut terlihat lebih segar dan lebih sehat.
Tak hanya itu, para pedagang juga biasanya menjual Bothok atau sejenis lodeh tahu yang kaya akan rasa, makanan ini biasanya menjadi menu pilihan lain bagi yang sedang tak ingin mengkonsumsi daging.
Selain itu, menikmati kuliner tradisional ini juga tak kalah nikmat bisa ditemani dengan es kolak pisang sebagai pelepas dahaga.
Kendati minumaan ini mengandung santan, namun kesegaran es kolak pisang ini mampu menjadi pasangan serasi untuk menemani hidangan Pindang Tetel.
Baca juga: Ini 4 Kudapan Nikmat dari Olahan SingkongDi kalangan masyarakat Pekalongan, Pindang Tetel paling terkenal yakni Pindang Tetel Mba Isah Sapugarrut Buaran yang sudah kurang lebih 30 tahun berjualan kuliner khas pekalongan ini.
Isah mengatakan bahwa seiring berkembangnya zaman, kuliner khas Pindang Tetel juga dijualnya secara online, dalam seporsi biasa dijual dengan harga Rp15 ribu dan dalam sehari dia mengaku bisa menggunakan daging lebih dari 5 kilogram.
"Sesuai selera sih kadang pembeli ada yaang mintaa gajih banyak, ada jugaa yang minta tulangnnya. Apalagi kalau pas ada sum-sumnya, banyak yang nyari juga. biasa kalau di sini banyak yang disajikan dengan kluban biar tidak hanya penuh dengan kolestrol," kata Isah dikutip Jum'at (27/5/2022).
(sof)