LANGIT7.ID, Jakarta - Memaafkan merupakan ajaran mulia dalam Islam. Nilai tersebut yang diterapkan seorang guru madrasah di St Louis, Missouri, Amerika Serikat asal Thailand, Sombat Jitmoud.
Sombat memaafkan pembunuh anaknya, Salahuddin Jitmoud dalam persidangan yang membuat hakim dan hadirin di ruang sidang menangis. Pembunuh Salahuddin Jitmoud adalah Trey Relford. Dia mengakui kesalahannya itu saat di persidangan.
"Keponakanku tersayang, Trey. Aku tidak menyalahkanmu atas kejahatan yang kamu lakukan. Aku tidak marah padamu karena telah menyakitimu anakku dan saudaranya" kata Sombat dalam persidangan, dikutip Ayatuna Ambassador, Jumat (3/6/2022).
Baca Juga: Kyrie Irving Jadi Inspirasi Pemuda Muslim Amerika Berani Unjuk Diri
"Saya marah kepada setan yang menggiringmu melakukan kejahatan sadis ini. Saya tidak menyalahkanmu. Saya tidak marah kepadamu. Saya memaafkanmu," kata Sombat mengulangi pernyataannya.
Sikap dan pernyataan Sombat yang datang dengan lima putranya yang lain mengejutkan para hadirin di persidangan. Bahkan, dalam video yang beredar terlihat sang hakim meneteskan air mata.
Dalam persidangan, selain memberikan maaf kepada Trey, Sombat juga meminta agar dia memberitahu siapa sebenarnya yang membunuh anaknya. Polisi menangkap 3 orang terkait pembunuhan itu, namun juri hanya mendakwa Relford dengan tuduhan pembunuhan, merusak barang bukti dan perampokan.
Pemberian maaf dan permintaan ini menyebabkan suasana emosional di pengadilan dan menyebabkan hakim yang tak bisa menahan tangis memutuskan untuk menunda persidangan.
Baca Juga: Siapa Muslim Pertama yang Datang ke Amerika?
Saat sidang berlanjut, giliran ibu Trey yang memberikan pernyataan, "Saya bertanggung jawab penuh atas meninggalnya anakmu. Saya sangat berduka. Saya sangat terkejut atas pemberiaan maafmu."
Pada kesempatan itu, Trey berdiri di ruang sidang dan juga meminta maaf kepada keluarga korban. Pada akhir pesannya dia memeluk ayah Salahuddin.
Memaafkan adalah Ajaran Islam Mengutip BBC, Sombat mengatakan, memaafkan pembunuh anaknya bukan perkara mudah. Namun, itu merupakan ajaran Islam dan juga tujuan dari keluarga adalah tetap membawa semangat memaafkan sepanjang hidup.
Selama dua tahun tujuh bulan persidangan, keluarga Sombat tetap berduka karena meninggalnya Salahuddin. Namun, Sombat menegaskan, mereka tidak marah karena hal buruk bisa saja terjadi.
"Saya juga berterima kasih kepada Allah bahwa saya tidak meninggal sebelum putra saya dan bahwa istri saya sudah meninggal terlebih dahulu. Karena bila dia (istri) hidup, dia tentu akan menderita," kata Sombat.
Kronologi Pembunuhan Mengutip BBC, pada 19 April 2015, Salahuddin mengantar pizza di kompleks perumahan di St Louis dan ditikam sampai meninggal. Salahuddin yang berusia 22 tahun saat itu ditemukan berlumuran darah.
Baca Juga: 7 Rapper Hits Amerika Serikat Ini Bangga Menjadi Muslim
Pada malam pembunuhan, Sombat mengatakan, dia meminta anaknya untuk mengantar satu pizza lagi sebelum pulang. Sombat lalu menerima telepon dari orang yang tak dikenal.
"Saya sangat terkejut. Saya berbaring selama 3 setengah jam. Penelpon mengatakan Salahuddin meninggal. Saya tak siap," kata guru berusia 66 tahun itu.
"Saya berjalan di kamar yang gelap, dan saya bertemu
Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un. Allah telah membawa kembali Salahuddin," lanjut Sombat.
(jqf)