LANGIT7.ID - , Jakarta - Memiliki
tubuh ideal seperti tinggi badan yang semampai menjadi dambaan semua orang. Terlebih bila ingin masuk ke
sekolah kedinasan yang mematok tinggi badan minimal sebagai syarat utama.
Bagi Sahabat Langit7 yang menginginkan sang anak bertubuh tinggi, alangkah baiknya mengenali faktor-faktor penentu yang bisa diterapkan sejak dini.
Dokter Ortopedi, dr. Asa Ibrahim Zainal Asikin, Sp.OT mengatakan faktor pertama yang paling menentukan tinggi badan adalah faktor genetik. Menurutnya, tinggi badan ayah atau ibu dan beberapa aspek genetik lain, sangat menentukan tinggi anak nantinya.
Baca juga: Psikolog: Demi Pertumbuhan Anak, Jangan Sering Sindir MerekaNamun, selain faktor genetik ada unsur penting lain yang mempengaruhi yaitu nutrisi.
"Perlu diketahui, selama 100 tahun terakhir, rata-rata orang
Korea bertambah tinggi 15 hingga 20 cm. Mengapa demikian? Sebab faktornya adalah perbedaan nutrisi. Maka itu, ketika ketika Anda dan suami memiliki tubuh pendek, tidak perlu khawatir dengan nasib anak, mereka bisa bertumbuh tinggi," terang dr Asa melalui unggahan di akun Twitter, @asaibrahim.
dr Asa menambahkan, dengan
nutrisi yang baik, seseorang bisa mencapai tinggi optimal genetiknya. Bahkan jauh lebih tinggi dibanding ayah ibunya, yang bisa jadi saat kecil nutrisinya tidak sebaik anak-anaknya.
Nutrisi yang optimal ini, lanjut dia, harus dimulai sejak lahir, balita, dan seterusnya. Karena memang prosesnya panjang. Adapun nutrisi yang baik meliputi cukup protein,
karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan lainnya.
"Tidak cuma susu saja. Susu bagus, banyak kalsium, dan memang kalsium ini penting, tapi jangan lupa nutrisi lain juga sangat berpengaruh. Tiap hari minum susu 3 gelas, tapi makan lauknya tidak bergizi sama saja," katanya.
Selain kalsium dari susu, lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) ini menuturkan, vitamin D juga memegang peranan penting untuk penyerapan kalsium dan utilisasinya ke tulang.
"Sebanyak apapun Anda memberikan minum kalsium kepada anak, jika vitamin Dnya defisiensi, tentunya akan sia-sia, yang diserap bisa hanya di bawah 10 persen dari yang dikonsumsi," imbuh dokter yang berpraktek di RS Awal Bros Panam, Pekanbaru, Riau ini.
Baca juga: Pencegahan Stunting Dapat Dimulai Sejak Dini, Yuk Calon Ibu PahamiLebih lanjut, dr Asa menjelaskan hasil sejumlah penelitian di mana ada lebih dari 50 hingga 70 persen anak Indonesia mengalami defisiensi vitamin D.
"Sebanyak apapun minum susu, makan bergizi, dan lainnya ya bisa jadi tidak optimal tinggi badannya. Karena segitu pentingnya vitamin D ini, dan seringkali dilupakan. Jadi untuk para orang tua yang ingin anaknya tinggi, saran saya cek deh kadar vitamin D anaknya, normal tidak (>30). Kalau defisiensi ya bisa jadi enggak optimal pertumbuhannya," tegas dr Asa.
Dokter yang kerap membagikan informasi melalui media sosial ini memberi saran untuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga sebagai faktor penentu tinggi tubuh.
Menurut dr Asa pembentukan tulang manusia itu responsif dengan beban yang didapat tulang. Maka itu jika sering olahraga, ada stimulasi tulang dan sendi, akhirnya akan terpacu untuk lebih optimal tinggi badan.
Olahraga paling baik adalah yang pada prosesnya menggerakkan banyak sendi dan bagian tubuh, misal berenang. Namun, dr Asa meminta untuk menghindari olahraga yang memberikan axial loading seperti angkat beban berlebih. Sebab, olahraga itu justru menghambat pertumbuhan.
"Tapi sekali lagi yang sangat dioptimalkan itu adalah nutrisi yang baik, dan jangan lupa, tidak hanya kalsium saja, tetapi juga vitamin D. Dan ingat, ada usia maksimal pertumbuhan lho, laki sekitar 18, wanita 16 tahun," jelasnya.
"Jadi jangan sampai, usia 19 baru bingung karena mau masuk sekolah kedinasan tapi tingginya kurang. Bingung mau gimana biar tambah tinggi. Sudah terlambat," tandas dr Asa Ibrahim.
Baca juga: Pakar: Tidak Semua Anak Bertubuh Pendek Dianggap StuntingApakah setelah usia 18 benar-benar sudah tidak bisa bertambah tinggi? Belum tentu juga. Menurut dia, pada sebagian kecil orang mungkin masih bisa, dengan syarat lempeng pertumbuhan masih belum menutup (terkalsifikasi).
"Tahunya darimana? Rongent dan periksa ke dokter tulang terlebih dahulu," tutupnya.
(est)