LANGIT7.ID, New Delhi - Umat Islam di
India menggelar demo besar-besaran mengecam politisi Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dianggap menghina Rasulullah.
Demonstrasi meletus di sejumlah kota dan negara bagian, termasuk negara bagian Uttar Pradesh utara, Benggala Barat, Maharashtra, dan ibu kota New Delhi. Demonstrasi yang awalnya berjalan damai berubah jadi kekerasan.
Situasi memburuk saat polisi menggunakan kekerasan untuk membubarkan demonstrasi. Polisi bahkan melepaskan tembakan yang menyebabkan dua Remaja muslim meninggal dunia.
Baca Juga: 2 Remaja Muslim Tewas dalam Aksi Protes Penghinaan Rasulullah di India
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, terlihat polisi memukuli para pengunjuk rasa dengan tongkat sambil menangkap beberapa di antara mereka. Itu terjadi di Prayagrai Uttar Pradesh.
Hal serupa terjadi di kota Moradabad dan Saharanpur. Umat Islam turun ke jalan menuntut penangkapan Sharma dan Jindal, politisi BJP yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW.
Mengutip Al-Jazeera, polisi
India menangkap lebih dari 200 orang, termasuk aktivis komunitas muslim. 48 orang Ditangkap di Saharanpur, 68 di Prayagraj, 50 di Hathras, 25 di Moradabad, delapan di Firozabad dan 28 di Ambedkar Nagar.
Di sisi lain, polisi di Prayagraj melakukan penggerebekan malam di rumah pemimpin mahasiswa Afreen Fatima. Polisi lalu menangkap ayah Fatima, Mohammad Javed, ibu dan saudara perempuannya.
Fatima menjelaskan, polisi datang sekitar pukul 20.30. Mereka lalu menangkap ayah Fatima. Setelah itu, polisi datang lagi sekitar pukul 23.30 malam dan menangkap ibu dan saudara perempuan Fatima.
Polisi datang untuk ketiga kalinya pada pukul 02.30 dini hari bermaksud menahan Fatima. Namun, Fatima melawan. Sejak saat itu, polisi mengepung rumah Fatima.
“Kami hanya perempuan dan anak-anak di rumah. Kami merasa terpojok dan trauma. Polisi telah meminta kami untuk meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci,” kata Fatima, dikutip dari Al-jazeera, Senin (13/6/2022).
Baca Juga: OKI Sebut Kebencian Terhadap Muslim India adalah Praktik Sistematis
Fatima mengatakan, polisi menuduh ayahnya sebagai dalang demonstrasi. Namun, tuduhan itu dibantah. Dia menegaskan, sang ayah tidak menjadi bagian dari demonstrasi. Hanya saja, sang ayah memang dikenal aktif menyuarakan aspirasi umat Islam di sana.
“Itulah sebabnya dia menjadi sasaran,” tutur Fatima.
Nahas, polisi tidak memberitahu Fatima ke mana anggota keluarganya ditahan. Dia sangat khawatir tentang keselamatan mereka. Seban sang ayah memiliki penyakit diabetes, dan membutuhkan suntikan insulin setiap malam.
(jqf)