LANGIT7.ID, Jakarta - Kinerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini belum dapat dikatakan sukses. Itu karena ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Hal itu disampaikan oleh Pemred Majalah Infobank, Eko B Supriyanto dalam diskusi ‘Menakar Kinerja OJK di Hutan Rimba Lembaga Keuangan’ yang digelar oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Ahad (12/6/2022).
Menurut Eko, pekerjaan rumah itu terkait misi utama pendirian OJK, yakni pengawasan terhadap konglomerasi yang terintegrasi bisa berjalan dengan baik. Berkaca dari krisis, dalam mengawasi grup perusahaan yang mempunyai bank, asuransi,
multifinance, sekuritas dan lain-lain bisa diawasi dalam satu payung.
Baca Juga: Indef: Platform Finansial Digital Didominasi Pinjol Ilegal
“Tetapi pengawasan konglomerasi di Indonesia menurut world bank belum maksimal,” kata Eko dalam diskusi ‘Menakar Kinerja OJK di Hutan Rimba Lembaga Keuangan’, Ahad (12/6/2022).
Di sektor industri keuangan non-bank, masalah asuransi seperti Bumi Putera, harus diselesaikan, karena menjadi citra buruk bagi OJK. Demikian juga masalah asuransi Kresna yang dipailitkan bukan oleh OJK tapi oleh PKPU.
“Padahal dalam UU Keuangan yang bisa mempailitkan perusahaan jasa keuangan adalah OJK,” tutur Eko.
Kendati begitu, Eko menyebut salah satu kesuksesan OJK adalah bagaimana OJK membereskan persoalan Bank Muamalat, Bukopin, dan Bank Banten yang selesai ditangani.
“Itu keberhasilan OJK,” tutur Eko.
Atas dasar itu, Eko menilai diperlukan revisi Undang-undang (UU) Keuangan terkait OJK, agar struktur di Anggota Dewan Komisaris (ADK) OJK agar dalam satu tubuh.
Baca Juga: Lindungi Konsumen Sektor Jasa Keuangan, OJK Rilis Aturan Terbaru
Kepemimpinan dari pimpinan OJK juga harus seperti pimpinan Bank Indonesia (BI) yang bisa mengatur dan mengambil keputusan secara lintas divisi di dalam tubuhnya. Di tengah hutan rimba sistem keuangan yang semakin rumit, masalah kepemimpinan dan Dewan Pengawas OJK yang harus didirikan menjadi semakin penting.
“Di samping itu semua catatan penting untuk OJK adalah bagaimana bisa berperan dalam meningkatkan literasi masyarakat tentang keuangan secara masif dan
digital financial, juga
financial deepening serta pengawasan terhadap konglomerasi yang harus dilakukan OJK,” ungkap Eko.
(jqf)