LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah mempercepat vaksinasi dosis penguat atau
booster guna menghadapi potensi lonjakan kasus Covid-19 subvarian baru Omicron BA.4 dan BA.5.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan bahwa secara khusus pemerintah mendorong vaksinasi booster sebagai syarat penyelenggaraan kegiatan yang melibatakan keramaian.
"Arahan Bapak Presiden untuk meningkatkan jumlah vaksin dosis ketiga," ujar Airlangga dalam keterangannya dikutip Selasa (14/6/2022).
Baca juga: Varian Baru Omicron Masuk Indonesia, Masyarakat Diminta Tetap WaspadaMenurutnya, secara prinsip untuk berbagai kegiatan baik ditempat olahraga, musik, kesenian yang melibatkan banyak anggota masyarakat wajib untuk vaksinasi dosis ketiga.
"Diharapkan dosis ketiga itu bisa difasilitasi sehingga untuk kegiatan-kegiatan yang menuai ataupun membuat kerumunan, vaksinasi ketiga akan terus didorong," ungkapnya.
Airlangga menyebutkan terdapat dua provinsi yang capaian dosis pertamananya masih di bawah 70 persen yaitu Papua Barat dan Papua. Sedangkan untuk vaksinasi dosis kedua terdapat sepuluh provinsi dengan capaian di bawah 70 persen.
“Provinsi yang masih relatif rendah di bawah 50 persen adalah Maluku, Papua Barat, dan Papua,” ujarnya.
Baca juga: Covid-19 di Arab Saudi Terus Meningkat: 753 Kasus Baru dan 3 KematianSelain itu, dia menyampaikan terkait perkembangan situasi Covid-19 nasional kendati terdapat peningkatan kasus kondisi pandemi di Indonesia secara keseluruhan masih dalam tahap yang terkendali.
“Kasus kita sekitar 574 (kasus) harian, kalau kita lihat Australia bisa 16.000-an (kasus), India 8.500 (kasus), Singapura 3.100 (kasus), Thailand 2.400 (kasus), bahkan Malaysia 1.700 (kasus),” ujarnya.
Menurutnya, angka reproduksi kasus efektif (Rt) Indonesia juga relatif stabil di bawah 1, tingkat kesembuhan (recovery rate) mencapai 97,34 persen, sedangkan tingkat kematian (case fatality rate) sebesar 2,58 persen.
“Kita lihat penularan kasus kebanyakan lokal, yang kasus dari perjalanan luar negeri sekitar 25 kasus,” kata Airlangga.
Dia menambahkan, tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit atau BOR (bed occupancy rate) terutama di luar Jawa-Bali juga masih relatif rendah. “Kalau di luar Jawa-Bali BOR COVID-19 relatif rendah dan yang tertinggi hanya di Kalimantan Utara dan Kalimantan Tengah,” katanya.
(sof)