LANGIT7.ID, Kediri - Masa muda orang Indonesia kebanyakan dihabiskan dengan urusan pendidikan sekolah dan bergaul. Tapi tidak dengan muslim milenial satu ini. Muslim asal Kediri ini, justru menghabiskan waktunya untuk berbisnis, bahkan sejak masih duduk di bangku SMP. Namanya Bagas Alimpad.
Dia mengalami fase masa pahit. Bisnis yang ia jalankan ternyata bermasalah karena urusan legalitas yang tidak jelas. Iya, mungkin milenial sekarang ini juga tidak asing dengan multilevel, di mana ia juga sempat terjun dan masuk ke dalam bisnis tersebut.
Bagas Alimpad, muslim kelahiran 24 tahun lalu ini sempat ikut dalam urusan multilevel ketika masih sekolah. Setelah bisnis yang dijalankannya terbukti ilegal, namanya pun ikut terseret dan berurusan dengan pihak kepolisian.
“Sempat ikut karena tergiur, di multilevel banyak pembelajaran, meskipun endingnya kasus, tapi itu pembelajaran tersendiri, dari situ juga saya belajar bagaimana merekrut, memahami karakter, mengelola orang. Alhamdulillah saya bukan terdakwa, saya sebagai korban karena turut diajak,” ujarnya dikanal Youtube Pecah Telur.
Tidak berhenti di situ, beranjak SMA ia berupaya untuk melakukan usaha lain yang saat itu adalah money game. Di mana dalam hal ini, transaksi uang dilakukan tanpa ada barang fisik yang jelas.
Dari situ Bagas mulai kembali terjerat kasus, setelah banyak pihak yang berinvestasi pada money game, ternyata bisnis ini juga ilegal. Dari dana investasi yang terkumpul hingga Rp1,3 miliar itu tidak jelas ke mana rimbanya, sedangkan ia menanggung semua beban cobaan itu.
“Di situ awal mula kebangkrutan, saat itu terkumpul Rp1,3 miliar dan saya bangkrut. Beban moral dan moril saya rasakan. Tapi, siapa saya sekarang adalah saya yang kemarin, tidak mungkin berada di titik sekarang ini, jika tidak berada di titik pahit kemarin,” jelasnya.
Kini, Bagas sukses menjadi produsen camilan yang menyediakan keripik jamur, makaroni dan lainnya. Baginya, masalah di masa lalu bisa diselesaikan dengan mencari solusi, bukan terfokus pada masalah yang ada.
Bagas menyebutkan, berfokus pada suatu masalah tidak akan merubah kehidupan menjadi lebih baik. Tapi mencari solusi untuk masalah yang ada akan membuat seseorang bisa bangkit dari keterpurukan.
“Awalnya investor menagih brutal itu pada 2015, di usia yang 17 tahun. Buat saya itu pahit seventeen bukan sweet seventeen. Kita biasanya ketimpa ujian kita fokus ke ujian, akhirnya kita menyalahkan keadaan bahkan nyalahin Tuhan. Ya memang ini ujian maka cari solusinya,” ujarnya.
Baginya, menjadi orang yang bermanfaat walaupun sedang dalam masalah yang rumit adalah prinsip hidup. Ketika itu, ia berusaha membantu keluarganya yang memiliki kumbung jamur dalam hal pemasaran.
Di situlah ia melihat adanya peluang usaha yang bisa ia lakukan. Berupaya menaikkan kelas dari jamur tiram, ia melakukan inovasi dengan membuatnya menjadi camilan keripik jamur.
“Bantu orang dahulu, baru dibantu Allah kemudian. Ketika saya bantu om saya ikut memasarkan jamur tiram dan ada peluang di pasaran. Saya buat brand dan tawarkan ke reseller, dari situ pelan-pelan reseller request, dan akhirnya kita terus berinovasi,” ujarnya.
Pada 2018, Bagas mulai bekerja sama dengan influencer sekaligus mentor bisnisnya, yaitu Saptuari Sugiharto dan saat itu pula penjualan camilan jamurnya naik hingga mencapai penjualan 20 ribu bungkus dalam waktu dua hari. Dilanjutkan kerja sama selanjutnya dengan sang Dewa Selling, Dewa Eka Prayoga, di mana penjualan dalam tiga hari camilannya bisa laku terjual sebanyak 100 ribu bungkus.
“Dari tahun 2018-2020, itu pelompatan semua, tidak hanya bikin produk, tapi juga marketingnya naik drastis. Sehingga benar-benar hutang itu lunas pada 2019, di situ napas saya baru terasa lega sekali. Kini omzet per bulan jika dihitung bisa mencapai miliaran,” ujarnya.
Dalam hal ini, Bagas mengaku terbantu dengan relasi yang ia jalin di komunitasnya. Baginya, komunitas adalah wadah untuk mempercepat naiknya omzet dalam usaha.
“Setiap apa pun keadaan kita perlu menjalin hubungan baik. Dari komunitas, bukan apa yang akan kita dapat di sana, takutnya ketika tidak dapat malah kecewa. Tapi niatkan apa yang bisa kita lakukan di sana, berikan dukungan dan lainnya,” ujarnya.
(zul)