LANGIT7.ID - , Jakarta - Grup musik Nasida Ria sontak menjadi perbincangan warganet ketika berhasil menghibur pengunjung festival musik di Kassel, Jerman, Sabtu (19/6/2022). Kelompok musik kasidah atau qasidah seperti Nasida Ria identik memainkan musik-musik bergaya arabik, gambus, shalawat dan lainnya.
Merujuk dari situs resmi
Kementerian Agama, kasidah merupakan kesenian yang secara teks umumnya menggunakan pesan-pesan moral yang bersumber pada ajaran agama Islam. Kasidah berasal dari kata qasidah dalam bahasa Arab, artinya ‘puisi’, ‘lagu’ atau ‘nyanyian’.
Baca juga: Nasida Ria, Grup Kasidah Asal Semarang yang Bikin Warga Jerman BergoyangArti
kasidah selanjutnya menunjuk kepada lagu dan musik dengan ciri tersendiri, yakni lagu dengan syair-syair bertemakan agama atau dakwah Islam. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kasidah merupakan sebuah bentuk puisi yang berasal dari kesastraan Arab, yang sifatnya pujian (satire, keagamaan) yang biasanya dinyanyikan atau dilagukan.
Secara historis asal-muasal kesenian kasidah berasal dari masa pra Islam hingga kemudian dikenal pada masa Rasulullah. Namun, seiring perjalanan waktu, kesenian kasidah mengalami banyak perubahan, baik secara tema maupun kemasan.
Seiring perkembangan zaman, perubahan dan penambahan model kesenian musik inipun terjadi. Sehingga membuat kasidah juga disajikan dengan tema-tema umum, seperti persahabatan, percintaan, hingga rumah tangga.
Meski begitu, tujuan awal sebagai media
dakwah Islam, tidak pernah hilang. Pesan-pesan yang disampaikan pun senantiasa disisipkan pada setiap penagunganuntuk Sang Pencipta dan kecintaan kepada Rasulullah.
Menghadirkan kesenian kasidah artinya membayangkan kehadiran
Rasulullah yang datang di tengah-tengah umat muslim. Sebab, pada saat itu, beberapa kaum Anshar menyambut kedatangan Nabi dan mendendangkan lagu-lagu pujian diiringi dengan lantunan musik rebana.
Baca juga: Video Klip Bom Nuklir Nasida Ria 'Ber-Subtitle' Bahasa Rusia, Pesan Damai untuk Putin?Penggunaan alat musik rebana sebenarnya sudah lama digunakan oleh masyarakat Arab. Bahkan sepeninggal Nabi pun, penggunaan rebana sebagai alat musik terus berlangsung hingga ke Syria, Irak, Persia, Armenia, Mesir dan Libya.
Kemudian, dari Persia berkembang ke Turki hingga ke Bulgaria. Kebudayaan Islam di Indonesia dikembangkan dari Turki kemudian lewat India hingga ke Kerajaan Samudra Pasai (Aceh). Nah, hal tersebut sebagai tempat awal masuknya seni kasidah dan akhirnya berkembang di kawasan Nusantara.
Seni rebana digunakan sebagai sarana dakwah para penyebar Islam di Nusantara. Dengan melantunkan syair-syair indah yang diiringi rebana, pesan-pesan mulia agama Islam mampu dikemas dan disajikan lewat sentuhan seni artistik musik Islami yang khas.
Dari situlah kemudian berkesenian rebana mengalami akulturasi dengan bangsa-bangsa lain, termasuk saat Islam diperkenalkan di Nusantara.
Baca juga: Lebaran ala KBRI Inggris, Annisa Rebana Lantunkan Nasyid(est)