LANGIT7.ID - , Jakarta - Kumpulan remaja Sudirman, Citayam, Bojong Gede, Depok (
SCBD) yang meramaikan kawasan Dukuh Atas dengan gaya nyentrik, belakangan menjadi buah bibir. Selain karena tingkahnya yang lucu, pakaian yang mereka kenakan juga cukup unik ala
street style. Terlepas dari itu, fenomena remaja SCBD atau dikenal juga dengan
Citayam Fashion Week ini membawa hasil positif bagi remaja pinggir Jakarta ini. Sebagian dari mereka berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang imbas dari tren ini.
Baca juga: Objek Wisata di Depok, Citayam Fashion Week Tak Mesti ke BNI CitySebut saja Bonge dan Kurma yang sempat menjadi viral di media sosial. Bahkan, dua pasang remaja ini menjadi bintang iklan untuk wahana permainan, Dunia Fantasi (Dufan).
Melihat hal ini, Peneliti Bidang Ekonomi The Indonesian Institute (TII) Nuri Resti Chayyani mengatakan adanya fenomena
Citayam Fashion Week membawa dampak positif bagi ekonomi para remaja tersebut.
Menurut dia, mereka jadi memiliki kreatifvitas tinggi yang mendatangkan pendapatan baru, sehingga membuat kehidupannya jadi lebih baik.
"Bahkan mereka itu sudah memiliki ketahanan ekonominya masing-masing. Mereka mencari uang sendiri untuk membeli
fashion yang diminati. Jadi ketahanan keuangan mereka terbentuk, dari adanya
Citayam Fashion Week," ucap Nuri kepada Langit7, Selasa (12/7/2022).
Baca juga: Fenomena Citayam Fashion Week, Bentuk Lain Urban TourismTidak hanya itu, lanjut Nuri para remaja tersebut juga sangat bangga memperkenalkan
produk lokal dan itu perlu diapresiasi. Dampak positif bagi UMKM, produk mereka jadi dikenal masyarakat luas.
"Kemudian mereka juga bangga memperkenalkan brand lokal, terlepas itu asli ataupun palsu tetapi yang perlu diapresiasi mereka dengan bangga memperkenalkan dan mereka tahu brandnya," ucapnya.
"Hal tersebut bisa mengangkat
UMKM dari bidang retail, untuk lebih dikenal oleh masyarakat. Apabila itu sudah dikenal masyarakat, maka UMKM dan permintaan masyarakat akan semakin meningkat," lanjut dia.
Lebih lanjut, Nuri mengatakan ketahanan keuntungan dari anak-anak tersebut juga semakin meningkat. Sebagian mereka sadar bahwa ada banyak peluang menghasilkan sebuah lapangan usaha.
"Misal untuk nongkrong disini dengan pemandangan bagus bisa menghasilkan uang melalui konten-konten yang dibuat. Nah, dari situ mereka akan mengubah kondisi keuangan ekonomi untuk dirinya sendiri minimal dan kemudian untuk keluarganya," pungkas Nuri.
Baca juga: Fenomena Anak SCBD, Bentuk Demokratisasi Jalan Sudirman(est)