LANGIT7.ID, Kuala Lumpur - Umat Islam pernah mencapai masa kejayaannya di mana secara politik Islam berkuasa di tingkat global dan memunculkan banyak kemajuan di bidang sains. Namun hari ini justru sebaliknya, terjadi kemunduran di berbagai negara-negara Islam.
Mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr.
Mahathir Mohamad, menilai, penyebab peradaban umat Islam mundur hari ini karena jauh dari Al-Qur’an.
Dia menjelaskan, saat Rasulullah SAW meninggal dunia, maka umat Islam tidak bisa lagi merujuk secara langsung kepada beliau. Dari situ banyak kelompok yang muncul menafsirkan agama. Penafsiran mereka berbeda satu sama lain.
“Jadi, kaum muslim pecah menjadi kelompok-kelompok mengikuti ajaran ini dan itu. Sampai pada titik di mana mereka menganggap kelompok-kelompok tertentu tidak Islam atau tidak cukup Islami,” kata Tun Mahathir kepada Gita Wirjawan di kanal YouTube-nya, dikutip Sabtu (16/7/2022).
Baca Juga: Wawancara Khusus Mahathir Mohamad: Peradaban Islam Bangkit jika Muslimin Amalkan Nilai Keislaman
Selama beberapa abad terakhir, pemikiran dan ide baru muncul. Ada ribuan penafsiran muncul, dan itu membingungkan. Setiap kelompok mengklaim penafsiran mereka lebih tepat.
Dia mencontohkan satu pandangan membaca Al-Qur’an harus memiliki seorang guru memastikan penafsiran yang benar. Tapi, kata Tun Mahathir, banyak politikus di Malaysia yang kerap mengutip Al-Qur’an dan hadits.
“Jadi, saya bertanya-tanya apakah mereka melakukan sesuatu dengan benar atau tidak,” kata Tun Mahathir.
Tun Mahathir mengaku sudah khatam Al-Quran saat usia 12 tahun. Namun, dia tidak mengerti pesan Al-Quran, karena tidak mengerti bahasa Arab. Jadi, dia harus membaca Al-Quran dalam bahasa Melayu dan bahasa Inggris.
“Maksud saya, perbandingan antara terjemahan yang berbeda menunjukkan bahwa apa yang mereka narasikan tentang Islam tidak benar. Bukan apa yang ada di Al-Qur’an. Bahkan, mereka mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Al-Qur'an,” ucapnya.
Baca Juga: Rektor Unida Gontor: Rusaknya Ilmu karena Terpisah dari Iman
Menurut Mahathir, hal itu merupakan suatu kekeliruan. Banyak orang terlalu mengagungkan tafsir sehingga lupa pesan inti dari Al-Qur’an itu sendiri. Dia mencontohkan ayat berbunyi, ”Semua Muslim adalah saudara” (QS Al-Hujurat: 10).
Tetapi menurut Mahathir, fakta di lapangan berbeda. Kelompok-kelompok tersebut kerap tidak memperlakukan muslim lain sebagai saudara. Padahal, Al-Qur’an jelas-jelas mengatakan semua muslim bersaudara.
“Banyak ajaran Islam lainnya yang tidak diikuti. Jadi, saya merasa bahwa kenapa kita gagal adalah karena kita tidak benar-benar menjalankan apa yang diperintahkan agama. Islam memiliki cara hidup ad-Dīn,” ujar Tun Mahathir.
Hal tersebut menjadi penyebab utama kemunduran Islam, karena tidak mengikuti jalan hidup Islam. Umat Islam saat ini banyak melakukan kesalahan. Maka itu, umat Islam perlu kembali kepada Al-Qur’an.
“Jadi, jika Anda kembali ke Al-Quran, kecil kemungkinan bahwa kita berbeda satu sama lain. Karena hanya ada satu Al-Quran. Al-Quran yang kita punya, hanya satu Al-Quran. Dan apa yang diajarkannya adalah pesan dari Tuhan, dari Allah. Jadi inilah pesan yang menciptakan Islam,” ungkap Tun Mahathir.
Dengan begitu, saat seorang muslim yang membaca Al-Qur’an akan menemukan nasihat bimbingan tertulis dari Allah Ta’ala. Namun, ini yang dilupakan umat Islam sekarang.
Baca Juga: Wawancara Khusus Mahathir Mohamad: Tua Bukan Alasan Berhenti Mengabdi untuk Negara
“Kita tidak melaksanakannya, bahkan sebagian besar umat Islam tidak melaksanakannya. Misalnya, Anda dilarang berkelahi, tapi mereka berkelahi, membunuh orang. Dan Al-Qur'an menekankan, ketika Anda menghakimi, hakimi dengan adil, tapi kita tidak melakukannya,” tutur Tun Mahathir.
Ada banyak hal yang dilakukan umat Islam tidak sesuai dengan ajaran Islam. Itu yang menyebabkan kemunduran. Maka itu, dia meminta umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an.
“Jika Anda kembali ke Al-Quran, perbedaannya akan jauh lebih sedikit. Tapi tentu saja, mereka cenderung berpegang pada ajaran ulama, atau imam mereka masing-masing sehingga kita terpecah,” pungkas Tun Mahathir.
(jqf)