LANGIT7.ID, Jakarta - Pembelajaran Tatap Muka (PTM) resmi diberlakukan di berbagai daerah. Penerapan PTM 50 hingga 100 persen mulai berlaku di tahun ajaran baru kali ini. Sekolah dan ruang kelas yang semula kosong kini mendapatkan spiritnya kembali dengan adanya PTM. Guru dan siswa pun sangat antusias menyambutnya.
Seumpama meneguk air saat dahaga, semangat belajar di ruang kelas sangat dirasakan siswa-siswi. Ada atmosfer berbeda ketimbang belajar secara daring. Hal itu dirasakan Canthing Anindya Larasati, siswi SDN Polisi 4 Bogor, Jawa Barat.
“Masuk PTM kayak dulu lagi, enak daripada daring. Kalau daring, kurang semangat belajarnya, jadi males-malesan, enggak bisa ngobrol bersama teman-teman, tidak bisa bercanda. Kalau di sekolah kan lebih enak, apalagi hari pertama itu serunya udah berasa banget,” tutur Canthing kepada LANGIT7.ID, Senin (18/72022).
Hal serupa tergambar di sekolah-sekolah yang ada di Tebet, Jakarta Selatan. Seragam merah putih, biru putih, hingga putih abu-abu sudah memenuhi lingkungan sekolah lengkap dengan masker di muka. Di Provinsi DKI Jakarta, PTM telah digelar 100 persen.
Baca Juga: PTM 100 Persen Jalan Terus Meski Covid-19 Belum Reda, Pemerintah Ingatkan Jaga Prokes
Salah satunya SD Negeri Tebet Barat 08, Jakarta Selatan, kegiatan belajar-mengajar sudah berjalan normal di sekolah ini. Semua siswa datang dan guru menyambut.
Pelaksanaan PTM juga memperhatikan protokol kesehatan yang ketat. Hal itu dilakukan guna mencegah penyebaran virus Covid-19 di Sekolah.
![Memulai Tahun Ajaran Baru dengan PTM, Kembalinya Spirit Pendidikan ke Sekolah]()
“Kita bekerjasama dengan puskesmas, dan menjalankan seperti yang diinstruksikan oleh pemerintah,” kata Wakil Kepala Sekolah SD Negeri Tebet Barat 08, Sudadi, saat ditemui LANGIT7.ID, di kantornya, hari ini.
Beberapa fasilitas protokol jesehr pun telah disiapkan seperti fasilitas cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, toilet bersih, hingga operasional kantin yang sesuai anjuran SKB 4 Menteri tentang pelaksanaan PTM.
Baca Juga: Tanamkan Ini ke Anak ketika Baru Memulai Sekolah Supaya Tak Kapok
Bocah-bocah SD di sekolah ini pun disiplin menerapkan protokol kesehatan. Ragam masker warna-warni menghiasi wajah, meski kadang terlihat lucu bagi sebagian bocah karena masker terlalu besar.
Tradisi Guru Menyambut Siswa di Pintu GerbangBagi Sudadi, PTM 100 persen menjadi langkah awal mengisi kekosongan pendidikan selama masa pandemi. Salah satu aspek yang dia sorot adalah keterikatan batin antara guru dan siswa.
“Untuk menjalin kasih antara murid dan guru memang kita belum bisa berkegiatan
outdoor (di luar sekolah), tapi memaksimalkan di lingkungan sekolah,” kata Sudadi.
![Memulai Tahun Ajaran Baru dengan PTM, Kembalinya Spirit Pendidikan ke Sekolah]()
Dia mencontohkan, saat waktu istirahat tiba, guru mengajak siswa untuk makan bersama di kantin. “Itu salah satu cara untuk menjalin silaturahmi antara guru dan anak-anaknya,” katanya.
Menariknya, sekolah SD ini memiliki tradisi mulia yang sudah dijaga sejak lama, yakni guru menyambut murid di depan pintu gerbang. Menurut Sudadi, guru harus memberi contoh, tidak sekadar mengajar, tapi juga mendidik. Maka itu, dia menginstruksikan untuk terus memelihara tradisi tersebut.
“Jadi, guru-guru datang lebih awal, berdiri di depan gerbang, dua baris menyambut siswa dengan senyum, sapa, dan salam (3S),” kata Sudadi.
Baca Juga: Anak Siap Masuk Sekolah, Pastikan Kebutuhan Nutrisi dan Psikis Terpenuhi
Dalam pantauan LANGIT7.ID, nampak jelas kedekatan guru dan murid. Terutama murid yang masih duduk di bangku kelas satu. Mereka memperlakukan guru layaknya orang tua.
![Memulai Tahun Ajaran Baru dengan PTM, Kembalinya Spirit Pendidikan ke Sekolah]()
Para guru tak segan duduk mendampingi murid yang tengah belajar, atau sekadar menemani bercerita. Saat hendak pulang sekolah pun demikian, para guru itu mengantar siswa sampai orang tua menjemput.
Mereka memastikan para murid itu pulang dengan selamat di bawah lindungan orang tua. Siswa bahkan tak segan-segan menjabat dan mencium tangan guru saat beranjak pintu gerbang.
“Kita memang mendidik siswa untuk berakhlak mulia, menghormati guru, menghormati orang tua. Kalau ada yang sakit, kita langsung rawat di UKS, jika perlu penanganan khusus, kita beri surat rujukan ke puskesmas,” kata Pak Sudadi.
(jqf)